Notes
Just wanna share... Semoga bermanfaat bagi kita
semua :)
#especially for physics 12 :)
Jalan Tanpa Ujung, Part 1
*Selamat membaca
"Berhentilah mencari. Maka dengan sendirinya, kita telah
tiba di ujung perjalanan. Selamat datang di rumah."
Kalimat bijak ini diajarkan turun-temurun oleh sufi, para bestari,
pengelana, orang2 yg telah berhasil menaklukkan dunia. Kalimat bijak ini
diucapkan oleh mulut2 yg telah selesai melewati fase meriahnya pesta, dan tiba
di ujung keheningan.... Mereka berhenti, tentu saja bukan karena mereka sudah
kaya (meski dalam beberapa kasus, ada yang seperti itu), mereka selesai, bukan
berarti mereka sudah berkelimpahan... percayalah, perasaan cukup bahkan bisa
hadir ke seseorang yang tidak memiliki apapun selain udara yang bebas di hirup,
bumi yang bebas dilangkahi...
Apa sebenarnya yang kita cari? Sy bisa saja menuliskan ide ini
dengan kalimat2 analog nan indah. Simbolisasi kehidupan. Kisah teladan. Atau
apalah yg sejenisnya macam novel-novel itu. Tp kali ini biarlah ditulis dgn
pendekatan yg amat kasat-mata sekali. Semoga dengan begitu, bisa meresapkan
keheningan di kepala.
1. Kekayaan
Pertanyaannya: Berapa banyak yg kita butuhkan? Dan berapa
banyak yg sudah kita miliki?
Boleh sy tahu berapa penghasilan Anda sekarang? 1-2 juta/bulan
(jika Anda buruh), atau 3-5 juta/bulan (jika Anda bekerja di salah satu
perusahaan besar atau PNS dgn sistem remunerasi). 6-10 juta/bulan (jika Anda
sudah memiliki 3-4 tahun pengalaman kerja). 10-15 juta/bulan (jika Anda sudah
di level manajer junior atau pangkat sekian-sekian); dan seterusnya hingga 1
s/d 5 milliar per tahun jika Anda sudah berada di posisi partner perusahaan
akuntan publik besar, firma konsultansi, direktur sebuah perusahaan dengan ribuan
karyawan, atau profesi dokter, lawyer ngetop.
Apa sebenarnya yang kita cari dalam perjalanan tanpa ujung ini?
Perjalanan 'pendapatan' seperti itukah yg sedang kita jalani? Karena jika iya,
itu kabar buruk buat kita, karena hidup kita sesungguhnya berlari di rute
paling lambat utk menjadi orang super-kaya di dunia. sangat2 lambat. rute kita
itu bagai siput dibanding jalan tol.
Pemain sepak bola di Inggris, rata2 di gaji 500 juta/minggu.
Pemain top mereka seperti Cristiano Ronaldo (sekarang pindah ke spanyol),
digaji lebih dari 2 milliar/minggu. Per minggu, bukan per bulan atau per tahun.
Bahkan meski kita jadi direktur perusahaan Astra Internasional, butuh 52 tahun
hanya untuk menyamai gaji Ronaldo selama 1 musim (9 bulan). Itupun belum termasuk
bonus2 yang dia terima. Tom Hanks dibayar 20-30 juta dollar (alias 180 -270
milliar) setiap kali tampil di film. Tiger Wood butuh satu kali kemenangan
untuk mengantongi 2 juta USD. Penulis JK Rowling hanya butuh 5 tahun karir
kepenulisan sejak Harry Potter meledak untuk berhasil mengumpulkan 300-500 juta
poundsterling. Warren Buffet atau milliarder macam Bill Gate, setiap detik
uangnya bertambah 5.000 dollar USD. Setiap detik, bukan setiap bulan atau
setiap tahun.
Jadi jika di perjalanan tanpa ujung ini yg ingin kita cari adalah
kekayaan, maka yg kita kerjakan sekarang: benar2 ada di jalur paling lambaaaat.
Celakanya, kita justru menghabiskan waktu dgn lbh banyak chatting, nge-blog,
dll pas kerja di kantor. Kita lebih banyak malas2an, ngomel, dsbgnya. Buka
excell, atau ambil kalkulator, menurut definisi internasional, kita disebut
kaya jika sudah memiliki aset keuangan/non keuangan produktif sebesar 1 juta
dollar. Hitung dgn pendapatan kita sekarang, hingga usia kita 70 tahun, apakah
angka itu akan tercapai saat kita tua? Ingat, itu asset produktif! bukan dalam
bentuk rumah atau mobil.
Akan sungguh menyedihkan, amat mengharukan, jika saat ini kita
tahu persis angka 1 juta dollar itu hanyalah mimpi... dan kita juga tdk punya
ide sama sekali utk mencari jalan mencapainya (kecuali berharap dpt suami kaya,
atau keluarga istri/mertua kaya raya).... kita justeru tetap membuat sumpek,
saling menyikut, dan melupakan hal2 yg lebih hakiki dalam hidup.
Saya terkadang sedih dan kasihan, setiap kali ngobrol dgn sopir2
angkutan umum, cleaning service, satpam, guru2... berkeliling di banyak kota, bertemu
dgn banyak orang, mendengarkan mereka bicara, mereka justeru nyinyir sekali dgn
betapa kecilnya gaji mereka... berkeluh-kesah... duhai, apakah kecilnya pipa
rejeki yg kita miliki harus merusak keikhlasan, rasa bersyukur atas pekerjaan
yg ada? Sudah tidak kaya, kehilangan pahala pula (bahkan mungkin mengundang
bala). Duhai, maukah kita menjadi orang yg se-merugi itu?
Baiklah, mereka orang2 yg mungkin tdk berpendidikan, tdk tahu...
tapi kita? yg dibesarkan dengan akses utk tahu, utk lbh bijak setiap hari,
apakah tetap akan se-nyinyir mereka? Sayang, kan sudah capek2 kerja, tp sia-sia
secara dunia dan akherat.... Jika teman kerja kita digaji lbh besar, atau
siapalah digaji lbh besar, kenapa tdk nyengir saja, tersenyum, lantas
bersyukur.
Karena di titik lain yg lebih menyedihkan: ada orang2 melakukan
kejahatan demi uang... Ada yg menyuap, ada yg minta suap... 6 milliar? Angka
itu kecil sekali, bahkan tdk cukup utk membeli satu apartemen kelas menengah di
Singapore. Menyuap 63 milliar? Angka itu bahkan tdk cukup utk membeli rumah di
Hollywood. Korupsi 1,3 T... nah, kalau yg ini baru terasa besarnya. Tapi apakah
sebesar itu? Tidak, kawan. Coba bandingkan dgn penghasilan Warren Buffet dan
orang2 terkaya di dunia lainnya. Uang 1,3T itu seperti uang seribu rupiah
dibandingkan uang satu juta milik mereka.
Itulah kenapa dunia ini diciptakan dgn "ukuran2".
Relativitas... Menurut sy, selain 'warna', 'waktu', 'ruang', ciptaan Tuhan yg
indah lainnya adalah: relativitas. Kecil di sini, belum tentu kecil pula di sana.
Besar di sana, belum tentu besar di sini... Dan, duhai... yg paling elok dari
mekanisme relativitas itu adalah: dia dikunci oleh perasaan (bukan oleh ukuran
metric, yg dipahami oleh rasionalitas). Ketika perasaan menjadi sumber
perbandingan, maka apakah "perasaan-cukup" memiliki korelasi dengan
angka2? tentu tidak.
"Berhentilah mencari... maka dengan sendirinya, kita telah
tiba di ujung perjalanan. Selamat datang di rumah..."
Mau sejauh mana kita melewati jalan tanpa ujung itu? Sidharta
Gautama meninggalkan tahtanya utk memahami hal ini. Orang2 besar di dunia juga
melakukan hal yg sama (terlepas dr apa agama mereka). Warren Buffet juga dalam
beberapa kasus, mungkin sudah sejak belasan tahun silam berhenti mencari
(bacalah biografinya)... Percayalah, ketika kita lega.. ihklas... tulus...
merasa berkecukupan, bukan berarti materi itu jd berhenti mendekat... Dalam
banyak kasus: sebaliknya! Sungguh kabar baik, apalagi jika kita Muslim dan
meyakini kitab suci, sungguh itu kabar baik, bukankah, di sana tertulis indah;
bersyukurlah... maka akan Allah tambahkan nikmat itu...
Maka
merasa cukuplah, dan kita akan dicukupkan oleh semesta alam... bukan karena
otomatis sim-salabim kehidupan kita tiba2 jd cukup.. tp lebih karena perasaan
cukup itu membuat beban kehidupan menjadi terasa ringan... Menurut rumus yg
saya pahami, maka E (Enjoy/kebahagiaan hidup) itu sama dengan M (merasa) dikali
C (cukup) kuadrat, persis rumus Einstein yg terkenal itu. E = m c kuadrat.
Berhentilah mencari.... Maka boleh jadi urusan ini yg justeru
mencari kita.
***bersambung
**tidak usah dikomen ya, dicatat baik2 saja, direnungkan. Dan
silahkan di repost, copy paste, share kemana2 jika merasa ada manfaatnya.
#Dikutip dr postingan Tere Liye dgn sedikit perubahan

Komentar
Posting Komentar