Tulisan ini entah siapa yang
menulis..
Saya
menemukannya dalam sebuah catatan di facebook tanpa ada yang mengetahui siapa
penulis sesungguhnya. Sebuah tulisan yang menggugah semangat, menyentuh dan
memotivasi. Teruntuk adik-adik mahasiswa. Selamat membaca ^_^ Semoga
menginspirasi..
Seorang mahasiswa menepuk-nepuk
bagian bahu almamaternya. Sesekali ia tiup. Membuat butir-butir debu
beterbangan. Bagian lengan terlihat kusam, masih tersisa bekas keringat yang
bercampur debu saat berdemo kemarin siang. Lantas ia mencium jaket
kebanggaannya itu. “Inilah wangi perjuangan”, bisiknya dalam hati.
Di sudut yang lain, seorang
mahasiswa sedang menyeterika kemeja putih, celana hitam, dan tidak lupa jaket
almamaternya. Bahkan, biasanya sangat jarang ia semproti baju yang diseterika
dengan pewangi dan pelembut, tapi hari itu ia pakai. Mahasiswa itu membuka
agendanya. Di lembar ke dua belas ia tuliskan bahwa besok ia harus mengikuti
konferensi tingkat nasional. Ah, pasti karena itu ia siapkan pakaian rapi
lengkap dengan almamater kebanggaannya. Sebelum diletakkan dalam sudut lemari,
diciuminya almamater itu. “Wanginya sudah siap untuk konferensi esok,” batinnya
bergumam.
Lain lagi dengan yang satu ini,
seorang mahasiswa sedang membersihkan kotoran akibat goresan pensil warna di
almamaternya. Sambil tersenyum, ia mengambil sehelai tissue basah lalu
menggosok-gosokkan di permukaan kotor tersebut. Meski tidak hilang sempurna,
tapi ia sama sekali tidak menyesali ulah anak-anak lucu yang telah mencoret
jaket kebanggaannya itu. Ia masih tetap bermain sembari sesekali menyeka
keringat. Tentu ada saatnya nanti, di sela-sela bermain, mahasiswa itu akan
berkata, “Adik-adik, sekarang kita belajar ya, supaya kalian jadi anak pintar
dan suatu saat dapat memperbaiki bangsa ini.”Sekarang giliranku, mungkin juga
giliranmu.
Coba ciumi almamater dari kampus
kebanggaan kita, aroma apa yang menyeruak? Akankah ia beraroma debu dan tetes
keringat akibat seringnya engkau turun ke jalan? Mungkin juga wangi yang kau
cium adalah wangi peserta konferensi atau pertemuan-pertemuan intelektual
lainnya? Atau ia beraroma anak-anak yang senantiasa kau dampingi tumbuh
kembangnya dalam pembelajaran dan mimpi-mimpi? Aku yakin, semua itu adalah
wangi perjuangan.Jika ada yang berkata, “Mahasiswa itu harus turun ke jalan
jika merasa masih peduli dengan bangsa ini!”. Hei, apakah kawan-kawan kita yang
menguras pikiran demi sebuah penemuan itu bukan bagian dari perjuangan? Apakah
teman-teman kita yang sering ke luar negeri untuk konferensi atau lomba-lomba
itu kita pandang sebagai ambisi pribadi? Atau kita menganggap remeh perjuangan
sebagian teman-teman yang lain ketika mereka berbagi senyum dan semangat dengan
anak-anak pinggiran? Semua kita sedang berjuang, kawan. Apapun medannya.
Pemerintah harus berterima kasih
kepada mereka (mahasiswa) yang bersedia mengawal dan menasihati tanpa meminta
bayaran. Demikian juga para orang tua, selayaknya menaruh harapan bahwa ada
jutaan anak muda yang masih peduli dan mempersiapkan diri guna menjemput
Indonesia di masa depan. Mereka sekarang sedang berserakan, di trotoar jalan,
di depan komputer, di sela-sela rak perpustakaan, atau mungkin di depan papan
tulis, dan ada juga di podium-podium kehormatan. Hanya satu yang ingin
kutanyakan, kawan, wangi apa almamatermu? Jangan sampai ia beraroma lemari
usang yang hanya kau keluarkan saat menjelang kelulusan. Aromai ia dengan
perjuangan, apa pun itu.
Komentar
Posting Komentar