Abasa Watawala


Nak, kurang lebih 1400 tahun yang lalu, hiduplah seorang pemuda yang disanjung seluruh penghuni langit dan bumi. Akhlaknya tiada dua. Tak pernah sekalipun pemuda ini berbohong, memaki atau berdusta.
Semua makhluk menyepakati nama pemberian orangtuanya padanya yaitu ‘Muhammad’ dengan makna ‘Yang terpuji’.
Nak, ketika usianya yang berpuluh-puluh tahun, masa kenabian pun beliau alami dengan turunnya wahyu yang berangsur-angsur.
Satu waktu, di masa kenabian itu, wahyu pun turun dengan 'keganjilan'.
Kala itu, wahyu bukan turun karena pertanyaan umatnya yang kerapkali ia risaukan, bukan pula karena keluhan seorang istri terhadap suaminya, bukan pula berkisah tentang nabi-nabi terdahulu yang selalu menguatkannya berdakwah. 
Bukan.. Bukan semua itu, Nak.
Tapi karena pada satu waktu, beliau melakukan satu hal yang tak biasa. Allah swt langsung menegurnya secara lembut nan halus yang disampaikan melalui malaikat jibril.
Hal itu bermula ketika disatu sisi kota Madinah, ada seorang buta yang terseok-seok melangkah. Wajahnya bercahaya. Ia penasaran sekali dengan apa yang ia dengar; seorang pemuda bernama Muhammad membacakan wahyu yang datangnya dari Allah? Sungguh, ia ingin segera bertemu dengan pemuda itu. Seulas senyum tergambar jelas diwajahnya. Tak sabar, ia ingin dibacakan kalam Allah dan duduk mendengarkan dengan penuh takzim disamping pemuda mulia bernama Muhammad itu.
Ah, Nak.. Sayangnya, tepat ketika seorang buta itu sampai, ternyata Nabi Muhammad saw sedang menghadapi gerombolan petinggi kaum yang juga penasaran dengan islam. Beliau saw melihat dari kejauhan seorang yang buta itu tergopoh-gopoh, namun semakin dekat saja jaraknya, Nabi Muhammad saw hanya diam, tak menyambut.
Beliau saw bimbang, khawatir tatkala melihat kedatangan Sang buta tersebut, maka para petinggi kaum dihadapannya berfikir, “Ah, ternyata para pengikut Muhammad adalah orang-orang buta dan rendah dari kalangannya.” atau “Ah, kau lihat! Agama yang dibawa Muhammad adalah memang untuk orang-orang seperti ini, bukan untuk kita!”
Beliau saw tak bermaksud apapun untuk memasang wajah tak senang, namun yg beliau rasakan mungkin,
“Tidak sekarang wahai Abdullah.. Aku sedang berusaha menarik hati mereka, sayangnya kau datang disaat yang kurang tepat.”
Mungkin begitu yang bergelayut di dalam perasaan beliau.
Namun, teguran dari Allah langsung menghujam ke ulu hati beliau. Menyuntikkan kesadaran yang bertubi-tubi. Bahwa sungguh, semua mesti mendapat kasih sayang dengan adil. Semua mesti kita sambut dengan sukacita. Tak terkecuali. Para petinggi, sekalipun sang buta ini.
Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling, (1)
karena seorang buta telah datang kepadanya (Abdullah bin Ummi Maktum). (2)
Dan tahukah engkau (Muhammad) barangkali dia ingin menyucikan dirinya dari dosa, (3)
atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, yang memberi manfaat kepadanya, (4)
Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (pembesar-pembesar Quraisy) (5)
maka engkau (Muhammad) memberi perhatian kepadanya, (6)
padahal tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman). (7)
Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), (8)
sedang dia takut (kepada Allah), (9)
engkau (Muhammad) malah mengabaikannya. (10)
sekali-kali jangan begitu! (11).
Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.
Nak, didalam Surat ‘Abasa itu bisa kau lihat, kau pahami dan kau cermati.
Bukankah logika kita mengatakan, hal yang dilakukan Nabi Muhammad saw terletak pada tingkatan paling masuk akal di dunia, jika memang sikap itu diperbolehkan.
Akan tetapi, silahkan kau bandingkan dengan sikap manusia sekarang. Tak usah jauh-jauh, coba tengok sikapmu pada sesama.
Jangan dulu tentang mimik wajah seperti yang dilakukan Nabi Muhammad, karena pasti takkan terhitung dengan sempurna berapa kali kau memasang wajah sebal, marah dan kesal pada sesama. Bahkan boleh jadi hal itu bukan hanya pada mimik wajah, namun pada tingkah laku dan juga sikap.
Untunglah, Nak. Kita bukan Muhammad yang menjadi Utusan Allah yang menerima wahyu dari-Nya ntuk disampaikan pada seluruh manusia.
Misal saja, tugas kenabian itu dibebankan ke pundak kita. 
Tak pernahkah kau bayangkan? Berapa kali dalam sehari Allah mesti menurunkan wahyu-Nya untuk memperingatkan kita, ‘Abasa watawala’!!
(SF, 09.42)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menggunakan Microsoft Excel

Part 2 - Memaknai Arti Mengabdi

Sistem Komputer