Keresahan Kartini, Keresahanku Juga

Pernah suatu ketika dalam percakapan iseng bersama tim muda wangka, kita membicarakan isu-isu yang menarik untuk diangkat sebagai topik webinar & juga program pengembangan pemuda di komunitas. Ketika banyak dari kita yang tertarik membahas tentang kemajuan teknologi, startup, digitalisasi dan lain-lain. Saya adalah salah 1 orang yang paling kekeuh dan setia untuk concern membahas isu pendidikan. Ini bukan karena saya ga tertarik sama topik-topik lain. Menurut saya, pendidikan adalah kunci utama untuk menyelesaikan akar masalah.

Jadi gini, ketika anak muda di kota-kota besar udah jauh ngomongin zaman, perkembangan teknologi A, B, atau C. Ironinya, mereka yg tinggal di pelosok daerah terpencil pulau sebrang, jangankan ngomongin teknologi, motivasi melanjutkan pendidikan saja masih rendah.

Kok bs ya saya dengan pede-nya ngomong gitu? Kayak sok tahu banget gitu ya? Eitss, jadi gini, karena saya juga anak daerah, jadi pernah juga merasakan hal demikian. Dulu, sebagian besar teman masa kecil saya mikirnya, ngapain juga capek-capek sekolah bertahun-tahun kalo cuma buat dapetin kerjaan yang bagus untuk dapetin duit yang banyak. Sedangkan dulu, waktu timah dan lada masih berjaya tanpa sekolah tinggi-tingi aja dengan ikut ortu menambang timah bisa dapet ratusan ribu bahkan jutaan rupiah sehari. Karena ga ngerti, jadi mikirnya serba instan! Itu fakta di tmpt saya tinggal. Penyebabnya apa saja bs brpikir demikian? Ini  yang saya amati:
  1. Lingkungan sosial yg notabene belum aware urgensi melanjutkan pendidikan tinggi. Sebagian besar orang tua berpikir, lulus SMA aja udh cukup apalagi perempuan yang ujung-ujungnya bakal balik ke dapur🙂 Perempuan yang terpenting udah bisa membaca dan menulis. Itu aja udah cukup katanya. Jika R.A Kartini masih hidup, pasti sedih banget ya. Hehe.. karena ternyata perjuangannya belum selesai.
  2. Akses informasi tentang pendidikan masih terbatas. Info tentang beasiswa, tips & trik memperoleh kampus dan jurusan yang tepat juga masih sangat minim. Anak2 di kota besar mgkn mikirnya udh jauh, bimbel dimana utk prsiapan SBMPTN atau mau kuliah di kampus bergengsi mana? Bagi kita anak dusun saat itu, apalagi keluarganya dgn latar blkg ekonomi pas2an, bs kuliah aja udh bersyukur pake 'banget'😌
  3. Ketakutan2/kekhawatiran yg mgkn berlebihan bagi sebagian orang. Tidak hanya sampai disitu, banyak yang berpikir ga akan mampu bayar kuliah yg mahal, ga mampu bersaing sama anak kota yg berasal dari sekolah bagus. Bisa dikatakan udah mental blok duluan, dan lain-lain. Ini sebenarnya masih nyambung sama poin no 2, karena walaupun sudah banyak beasiswa pemerintah dan swasta disediakan, namun akses informasi masih kurang.
Sedih bgt klo diceritain😭 klo mikirnya gitu trs, miris banget kan? 

Pendidikan adalah kuntji! Tak salah Nelson Mandela mengatakan bahwa "Pendidikan adalah senjata yang paling ampuh untuk mengubah dunia." Yaps! Sekali lagi pendidikan adalah kunci. Pendidikan adalah senjata! Senjata untuk melawan kebodohan & mengentaskan kemiskinan. Zaman dahulu, para pendahulu kita harus berjuang angkat senjata melawan penjajah agar memperoleh kemerdekaan. Sekarang, walau tak harus berjuang angkat senjata, mungkin perjuangan kita tidak lebih mudah, kawan! Kemerdekaan berpikir dan memperoleh pendidikan harus sama-sama kita perjuangkan.

Perjuangan kartini dahulu tentang pendidikan, itu seharusnya masih menjadi keresahan kita bersama hari ini.

Selamat hari kartini.

With love,
Hesih Permawati, S.Pd.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menggunakan Microsoft Excel

Part 2 - Memaknai Arti Mengabdi

Sistem Komputer