#DearSandwichGeneration
Dear sandwich generation,
Gimana kabarmu? Fisik sehat? Mental dan perasaan aman?
Aku tahu kok kamu sebenarnya ingin ditanya kabarnya di saat ga ada yang peduli dan bertanya :)
Di saat ga ada yang peduli apa yang kamu rasain dan apa sebenarnya yang kamu inginkan dalam hidup ini. Di tengah ketidakpedulian orang-orang, di saat yang sama kamu juga sedang berjuang merawat luka. Wah, kamu hebat lho bisa bertahan sampai sekarang. Yuk, terima kasih sama dirimu :)
Anw, catatan ini ku tujukan untuk diri sendiri dan sandwich generation di luar sana (yang mungkin saja kesasar baca tulisan semrawut ku ini). Yang ga relate boleh skip aja.
Jujur, butuh jutaan kali mikir untuk posting tulisan ini di blog. Sesuatu yang ku tulis di saat ruang kerja kantor lagi dingin-dinginnya. AC nyala poll, tapi penghuni yg tersisa hanya aku, satpam dan tikus kantor, hehee.. (Ini tikus beneran yak bukan tikus berdasi wkwkwk..) Lagi nangis aja masih sempat sempatnya ngelawak konyol. #Edisimenghiburdiri
Btw, tulisan ini mungkin juga akan ku delete soon. Hanya ingin mengurai keruwetan isi kepala di saat tidak ada makhluk di dunia ini yang bisa dijadikan tempat berkeluh kesah. Please jangan bilang apa yang ku lakukan ini lebay atau terlalu mendramatisir. Bukan kah setiap orang punya cara sendiri merilis emosi dan mengurai isi kepala?
Aku yakin mungkin ada orang yang senasib dan butuh baca tulisan ini.
Kamu pernah ga sih merenungi nasib dan overthinking di tengah malam yang sunyi?
Kenapa sih harus kamu yang menanggung beban berat ini? Kenapa dunia begitu kejam padamu? Kenapa begitu besar ekspektasi orang-orang terhadapmu? Kenapa kenapa lainnya yang memenuhi kepala.
Astagfirullah, ampuni hamba ya Allah. Butuh self talk berkali-kali hingga berada di tahapan menemukan makna dari kontemplasi ini.
Kamu pernah ga sih di posisi ku saat ini? Berpikir ribuan kali saat mau ini mau itu?
Sama halnya dengan banyaknya pertimbangan saat aku tahu kalo pas aku S2, aku gabakal dapet gaji, kemudian aku mikir… “ini gue egois ngga ya? Pingin S2 di luar, padahal masih ada tanggungan.”
“Ini entar emak ayah sama adek-adek gue makannya gimana selama gue kuliah? Biaya kuliah adek gue gimana? bayar kontrakan adek-adek gimana?"
"Bayar listrik/internet/bpjs/dll dkk gimana? Jahat gak si gue kayak lari dari tanggung jawab?”
Butuh ribuan kali mikir dan meyakinkan diri bahwa berusaha mencapai cita-cita ku dari dulu itu adalah bukan hal egois.
Jadiiiiii........... pesan ini untuk kamu,
Yaa, untuk dirimu...
Yang bertanggung jawab atas keluarga, padahal kamu belum berkeluarga,
Yang perlu menunda banyak mimpi agar bisa memenuhi tanggung jawab,
Yang proporsi besar dari gaji dipakai untuk memenuhi kebutuhan keluarga,
Yang seringkali harus mengalah atas banyak pertimbangan,
Yang merasa dunia ini tidak adil,
Pun aku juga begitu,
Setelah berkontemplasi, begitu ku buka jurnal ku beberapa tahun sebelumnya, ada tulisan “LHA KENAPA JADI AKU YANG NANGGUNG SEMUANYA???”
Ada perasaan marah, sedih, kecewa, bingung....
Astaghfirullah.. sekarang insyaAllah udah (dan masih belajar) ikhlas:’))
Ketika temen-temen sebaya pada update investasi, beli saham ini itu, nyicil mobil, KPR rumah, beli tanah, nabung buat nikah… beuuhh, paiiiiittt banget gaksi rasanya kalo kita nabung dana darurat aja ngga kelar kelar??? Boro-boro mikirin tabungan nikah :)
Pesan ku untuk gen ini (nunjuk diri sendiri dan gen sandwich dimanapun berada)
I know it’s hard:’) pelukkk erat!!
Ayok sama-sama belajar bersihin hati, lurusin niat. InsyaAllah ini bukan investasi dunia lagi. Kalkulatornya Allah tuh ngga sama kayak logika manusia, gausah bandingin sama yang lain!! Karena bisa jadi apa yang kita dapet sekarang, bisa bukan dalam bentuk materi, mungkin dari sedekah yang ituu. Mungkin banyak berkah dari hal inii. Selalu yakin bahwa Allah Maha Adil.
Peluk hangat dari jauuhh!!!❤️
~Mari melanjutkan mimpi yang sempat terhenti...~
Study abroad bukan cuma mimpi... Kamu pasti bisa Hesih!!! 2024 is YOUR TIME...
GANBATTE!
Komentar
Posting Komentar