Postingan

#DearSandwichGeneration

Dear sandwich generation, Gimana kabarmu? Fisik sehat? Mental dan perasaan aman? Aku tahu kok kamu sebenarnya ingin ditanya kabarnya di saat ga ada yang peduli dan bertanya :)  Di saat ga ada yang peduli apa yang kamu rasain dan apa sebenarnya  yang kamu inginkan dalam hidup ini. Di tengah ketidakpedulian orang-orang, di saat yang sama kamu juga sedang berjuang merawat luka. Wah, kamu hebat lho bisa bertahan sampai sekarang. Yuk, terima kasih sama dirimu :) Anw, catatan ini ku tujukan untuk diri sendiri dan sandwich generation di luar sana (yang mungkin saja kesasar baca tulisan semrawut ku ini). Yang ga relate boleh skip aja. Jujur, butuh jutaan kali mikir untuk posting tulisan ini di blog. Sesuatu yang ku tulis di saat ruang kerja kantor lagi dingin-dinginnya. AC nyala poll, tapi penghuni yg tersisa hanya aku, satpam dan tikus kantor, hehee..  (Ini tikus beneran yak bukan tikus berdasi wkwkwk..) Lagi nangis aja masih sempat sempatnya ngelawak konyol. #Edisimenghiburdir...

Tips Memilih Pemimpin Ideal Ala Milenial dan Gen Z

Tak terasa sebentar lagi pesta demokrasi terbesar di negeri ini akan kembali digelar. Euforia dan atmosfer politis makin terasa. Perbincangan tentang pemimpin ideal harapan bangsa menjadi semakin gencar dilakukan. Tidak hanya di forum resmi, tapi di warung makan, kedai kopi, kantor dan tidak terkecuali di sosial media. Keriuhan pembahasan tentang pemimpin ideal harapan rakyat baik dunia maya dan nyata mulai terasa. Para petarung politik pelan-pelan sudah mulai menunjukkan eksistensinya. Tidak hanya eksistensi, tapi juga mulai berebut simpati. Hal yang lumrah terjadi saat menjelang pesta demokrasi seperti saat ini. Padahal di hari-hari biasa, rakyat kecil menjerit mencari-cari di mana para wakil rakyatnya berada? Mana penunaian janji-janji politik mereka ketika masa kampanye? Kepada siapa rakyat harus mempercayakan nasibnya? Ah ya, mungkin tak baik juga selalu mengutuki keadaan. Lebih baik memanjatkan doa dan harap terbaik untuk keberlangsungsan demokrasi di negeri ini. Harapku dan...

Mengeja Hikmah di Tanah Rantau

"Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah berjuang." -Imam Syafi'i- Kutipan kalimat dari Imam Syafi'i yang kubaca dalam Novel Trilogi Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi saat masa putih abu-abu sukses mengubah cara pandangku tentang hidup. Merantau menjadi cita-cita yang kudambakan sejak duduk di kelas X SMA. Meskipun saat itu keinginanku ditentang keras oleh ayah. Ya, aku paham betul kekhawatiran ayah padaku. Melepas anak perempuan pertama dan satu-satunya di usia yang masih sangat belia bukanlah perkara mudah. Tapi sejak saat itu, aku bertekad tidak akan menyerah. Cukup sekali saja aku menyesal karena tidak diizinkan bersekolah di asrama. Untuk kedua kalinya, aku tidak boleh gagal lagi meyakinkan ayah. Tekadku dalam hati. Tahun 2012 adalah awal petualangan baru dan titik balik perja...

Mimpi Seorang Gadis Pesisir

Tersebutlah seorang gadis yang lahir dan tumbuh di sebuah pulau kecil dekat pesisir di ujung selatan Sumatera. Masa kecilnya dipenuhi dengan nestapa, hidup dalam kemiskinan dan keterbatasan. Ibunya seorang buruh pemetik lada dan ayahnya seorang nelayan yang melaut bermodalkan perahu sewaan. Gadis itu bernama Nur Latifah Kasfiyah Hasbi. Sejak kecil, ia biasa dipanggil Nur. Kehidupan pesisir telah menempanya menjadi sosok yang kuat. Hidup bersama terik matahari dan gemuruh ombak, membentuknya menjadi sosok yang tangguh, setangguh para pelaut di tengah lautan. Keterbatasan dan kerasnya hidup tidak membuatnya menyerah. Justru kesulitan hiduplah yang menempanya menjadi gadis mandiri, pemberani dan teguh pendirian. Tak peduli seberapapun kerasnya hinaan datang padanya. “Mbok yo mikir, hidup susah tapi mimpi ketinggian. ” Ucap tetangga saat dulu dia kekeuh untuk melanjutkan kuliah. Kenangan paling membekas adalah ketika orang tuanya datang meminjam uang kepada paman dan bibinya untuk bekal me...

Hikmah Perjalanan ke Negeri Tirai Bambu

Gambar
24 Juli 2016 adalah kali pertama aku menginjakkan kaki di tanah Cina. Jujur, menginjakkan kaki di bumi Allah yang satu ini merupakan salah satu pengalaman paling berkesan dalam hidupku. Pengalaman yang membawaku pada perjalanan pengembaraan hidup lainnya. Bisa dikatakan, menginjakkan kaki di tanah Cina telah membuka cakrawala berpikirku untuk dapat menjelajah dan melihat dunia secara lebih luas. Sebagai anak desa yang berkuliah dan bertahan hidup di perantauan dengan mengandalkan beasiswa, bisa berkunjung ke negeri orang adalah sebuah pengalaman dan perjalanan yang luar biasa. Boro-boro bermimpi bisa pelesiran keluar negeri. Bisa menginjakkan kaki ke luar pulau Sumatera saja saat itu adalah sebuah pencapaian dan kemewahan. Jujur, negeri tirai bambu telah berhasil mematri tekad dan keinginanku untuk melangkah lebih jauh. Perjalanan ke negeri tirai bambu tidak hanya memberikan pengalaman intelektual, tetapi juga spiritual. Siapa sangka negeri Cina yang konon katanya tertutup dan terisol...

Vibrasi Pikiran Manusia dan Tarikan Alam Semesta

“Perhatikan pikiran Anda, dia akan menjadi kata-kata. Perhatikan kata-kata Anda, dia akan menjadi tindakan. Perhatikan tindakan Anda, dia akan menjadi kebiasaan. Perhatikan kebiasaan Anda, dia akan menjadi karakter. Perhatikan karakter Anda, itu akan menjadi takdir Anda.” Kalimat di atas menggambarkan betapa besarnya dampak dari kekuatan pikiran. Tak heran jika para filsuf menyarankan kita agar selalu berpikir positif. Semua yang ada di alam semesta ini terbentuk dari energi. Begitu pula kita sebagai manusia. Manusia itu bagaikan magnet. Energi dari magnet itu akan menarik segala sesuatu yang serupa dengannya. Dan magnet itu ada di dalam pikiran kita. Oleh karena itu, pikiran mampu menjadi pilot atas apa yang ingin kita wujudkan, kita cita-citakan, bahkan yang sekadar kita imajinasikan. Sekali fisik kita merencanakan dan mematrikan imajinasi dalam pikiran (atau yang kita kenal sebagai niat atau afirmasi), fisik kita mulai mencari jalan bagaimana merealisasikan apa yang sudah kita pikir...

Mendung Tak Selamanya

Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin terus menerus akan terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam. -R.A. Kartini – Sajak di atas rasanya tepat sekali menggambarkan tentang kehidupan seorang manusia. Tidak ada bahagia yang selamanya, dan tidak ada pula duka yang bertengger selamanya. Suka dan duka adalah paket komplet kehidupan yang niscaya akan dirasakan setiap insan yang hidup di dunia. Maka, tak salah jika ada pepatah bijak yang mengatakan bahwa berbahagialah secukupnya dan bersedihlah seperlunya. Pesan yang kutangkap dari pepatah ini adalah jangan berlebihan dalam hal apapun, karena segala yang berlebihan akan tidak baik. Tahun kemarin merupakan tahun dengan duka mendalam bagiku dan keluarga besar. Kehilangan anggota keluarga yang sangat kami cinta menjadi duka yang sangat dalam bagi kami sekeluarga. Ya, kehilangan sesorang yang dicintai tentu saja menjadi luka dan duka bagi siapa saja yang merasakannya. ...