Mendung Tak Selamanya
Tiada awan di langit yang tetap selamanya.
Tiada mungkin terus menerus akan terang cuaca.
Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan.
Kehidupan manusia serupa alam.
-R.A. Kartini –
Sajak di atas rasanya tepat sekali menggambarkan tentang kehidupan seorang manusia. Tidak ada bahagia yang selamanya, dan tidak ada pula duka yang bertengger selamanya. Suka dan duka adalah paket komplet kehidupan yang niscaya akan dirasakan setiap insan yang hidup di dunia. Maka, tak salah jika ada pepatah bijak yang mengatakan bahwa berbahagialah secukupnya dan bersedihlah seperlunya. Pesan yang kutangkap dari pepatah ini adalah jangan berlebihan dalam hal apapun, karena segala yang berlebihan akan tidak baik.
Tahun kemarin merupakan tahun dengan duka mendalam bagiku dan keluarga besar. Kehilangan anggota keluarga yang sangat kami cinta menjadi duka yang sangat dalam bagi kami sekeluarga. Ya, kehilangan sesorang yang dicintai tentu saja menjadi luka dan duka bagi siapa saja yang merasakannya. Rasa kehilangan yang sampai detik ini masih belum sembuh, meskipun waktu terus berputar. Kehilangan seseorang yang kita cintai dalam keadaan yang sangat tidak siap, ternyata bisa membawa seseorang pada kondisi denial. Dalam kondisi iman yang sedang turun, ada saat di mana kami kembali mempertanyakan: Rabb, mengapa kami yang harus diuji dengan ujian seberat ini? Astagfirullah, rasa penolakan itu terkadang membuat diri menjadi kufur nikmat. Padahal Dia memberikan ujian sesuai batas kemampuan hamba-Nya.
Memang tak mudah meyakini bahwa akan selalu ada pelangi setelah hujan. Suatu kondisi yang menggambarkan bahwa kehidupan kita tidak selamanya dipenuhi dengan kedukaan. Seperti halnya cuaca, kehidupan manusia sangat dinamis, dan kondisinya bisa berubah dengan cepat. Mendung menggelayut sepanjang hari, berakhir dengan warna-warni pelangi nan indah setelahnya. Sungguh, kita hanya perlu meyakini bahwa semuanya akan baik-baik saja. Mentari akan tetap bersinar kemudian, meskipun seharian dilanda hujan dan badai. Ya, lagi-lagi ini soal keyakinan dan prasangka.
Pada hakikatnya, manusia hanya perlu berprasangka baik pada Tuhannya. Dia-lah sebaik-baiknya pengatur skenario kehidupan manusia. Iman di dada seharusnya mampu menguatkan keyakinan kita akan takdir terbaik-Nya. Seperti sajak di atas: “Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan.” Perlu kita yakini bahwa dunia tidak akan menyeramkan selamanya. Ada kadang kalanya hidup ini begitu menakutkan, kadang pula hadir ketenangan dan kedamaian.
Tugas kita adalah menakar dan mengatur rasa, baik rasa bahagia, rasa sedih, rasa cinta, rasa benci dan rasa syukur. Karena sebaik-baiknya takaran rasa adalah “Bahagia dengan secukupnya, sedih seperlunya, mencintai dengan sewajarnya, dan bersyukur sebanyak-banyaknya.” Dengan resep ini, insyaallah kita tidak akan luka dan jatuh terlalu dalam karena realita. Wallahu a’lam bish showwab.
#30DWCJilid41 #Day22
Komentar
Posting Komentar