Vibrasi Pikiran Manusia dan Tarikan Alam Semesta
“Perhatikan pikiran Anda, dia akan menjadi kata-kata. Perhatikan kata-kata Anda, dia akan menjadi tindakan. Perhatikan tindakan Anda, dia akan menjadi kebiasaan. Perhatikan kebiasaan Anda, dia akan menjadi karakter. Perhatikan karakter Anda, itu akan menjadi takdir Anda.”
Kalimat di atas menggambarkan betapa besarnya dampak dari kekuatan pikiran. Tak heran jika para filsuf menyarankan kita agar selalu berpikir positif.
Semua yang ada di alam semesta ini terbentuk dari energi. Begitu pula kita sebagai manusia. Manusia itu bagaikan magnet. Energi dari magnet itu akan menarik segala sesuatu yang serupa dengannya. Dan magnet itu ada di dalam pikiran kita. Oleh karena itu, pikiran mampu menjadi pilot atas apa yang ingin kita wujudkan, kita cita-citakan, bahkan yang sekadar kita imajinasikan. Sekali fisik kita merencanakan dan mematrikan imajinasi dalam pikiran (atau yang kita kenal sebagai niat atau afirmasi), fisik kita mulai mencari jalan bagaimana merealisasikan apa yang sudah kita pikirkan. Ada pepatah latin mengatakan, "Fortis imaginatio generat casum", artinya imajinasi yang jelas menghasilkan kenyataan.
Beberapa pekan lalu, saya sempat membahas tentang kejadian berulang atau “looping patterns” bersama sahabat saya Pofi Putri Utami. Peristiwa atau kejadian berulang yang terjadi hadapi dalam hidup, bisa jadi adalah akibat dari energi yang ditangkap oleh semesta dari diri kita. Sebagai contoh, pernahkah kamu merasa sering dipertemukan dengan orang-orang trouble maker dalam hidup, dan seakan kamulah yang dikirimkan menjadi sosok problem solvernya? Mungkin selama ini dalam pikiranmu, kamu mensugestikan dirimu adalah seorang problem solver, sehingga semesta menangkapnya kemudian menghadirkan energi dalam bentuk masalah-masalah yang mesti kamu selesaikan.
Nah, kebanyakan dari kita memikirkan apa yang tidak kita inginkan. Sehingga secara tidak sadar, kita justru menariknya ke dalam hidup kita. Jadi, jika pikiran kita disertai dengan emosi yang kuat, baik itu positif maupun negatif, maka akan mempercepat proses perwujudannya. Pernahkah kita menyadari, mereka yang sering berbicara tentang penderitaan, maka hidupnya terus menderita. Sedangkan mereka yang sering berbicara tentang kemakmuran, maka hidupnya makmur berkelimpahan. Contohnya saja, saat kita bersedekah kita berharap bahwa rezeki kita akan bertambah. Padahal mungkin, sempat terbersit dalam pikiran dan perasaan bahwa dengan memberi akan membuat harta kita menjadi berkurang. Nah, penting sekali menyelaraskan apa yang ada dalam hati (perasaan) dan pikiran. Karena, semesta akan menangkap apa yang kita pikirkan dan rasakan. Jika kita memberi karena merasa berkelimpahan, maka semesta akan menangkap bahwa kita adalah seorang yang berkelimpahan (kaya). Dan energi tersebut akan kembali ke dalam diri kita. Namun sebaliknya, jika kita merasa dengan memberi malah membuat kita kekurangan, maka semesta akan menangkap energi yang serupa.
Mengapa itu terjadi? Sederhana. Pikiran itu menimbulkan perasaan. Jadi, apapun yang kita rasakan saat ini adalah cerminan sempurna dari proses yang sedang terjadi dalam hidup kita. Kita akan mewujudkan apapun yang kita rasakan. Pikiran kita akan menarik apapun yang kita pikirkan. Maka, dari sekarang, pilihlah pikiran kita dengan bijaksana. Percayalah, bahkan pikiran kita, jika diulang terus, ia akan menjadi kenyataan. Apalagi jika kita ucapkan, lakukan, menjadikannya karakter, dan kebiasaan. #Sebuahrenungan #HesihNotes
#30DWCJilid41
#Day23
Komentar
Posting Komentar