Mengeja Hikmah di Tanah Rantau


"Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah berjuang."
-Imam Syafi'i-


Kutipan kalimat dari Imam Syafi'i yang kubaca dalam Novel Trilogi Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi saat masa putih abu-abu sukses mengubah cara pandangku tentang hidup. Merantau menjadi cita-cita yang kudambakan sejak duduk di kelas X SMA. Meskipun saat itu keinginanku ditentang keras oleh ayah. Ya, aku paham betul kekhawatiran ayah padaku. Melepas anak perempuan pertama dan satu-satunya di usia yang masih sangat belia bukanlah perkara mudah. Tapi sejak saat itu, aku bertekad tidak akan menyerah. Cukup sekali saja aku menyesal karena tidak diizinkan bersekolah di asrama. Untuk kedua kalinya, aku tidak boleh gagal lagi meyakinkan ayah. Tekadku dalam hati.

Tahun 2012 adalah awal petualangan baru dan titik balik perjalanan hidupku. Untuk pertama kalinya aku diizinkan merantau ke negeri seberang. Bumi Sriwijaya adalah destinasi kota perantauanku yang pertama. Kota yang telah mengukir sejuta cerita baik suka, duka dan lara. Tentu saja kedatanganku ke kota ini dalam rangka menimba ilmu. Antusias sekali rasanya berkesempatan mengeksplorasi kehidupan di luar sana secara mandiri, jauh dari keluarga. Menantang diri sendiri dan keluar dari zona nyaman. Banyak sekali pembelajaran hidup yang aku dapatkan. Tentang kemandirian, keuletan, keberanian, tekad baja, kejujuran dan nilai-nilai penting untuk bekal hidup lainnya.

Hidup mandiri, jauh dari keluarga memang memiliki tantangan sendiri. Aku harus terbiasa melakukan banyak hal dan menghadapi masalah seorang sendiri. Benar-benar melatih mental dan beranian. Masih teringat jelas kenangan masa kuliah saat harus berhemat uang makan di akhir bulan, karena uang beasiswa yang telat cair. Belum lagi mesti berhemat ongkos transportasi dengan menjadikan jalan kaki sebagai moda transportasi paling irit dari kosan menuju gedung perkuliahan. Jarak yang terbilang tidak dekat, tapi tetap terasa nikmat jika diingat kembali. Hal menarik lainnya adalah saat keadaan memaksa diri untuk menjadi tenaga pengajar di bimbingan belajar dan kursus privat. Ini ku lakukan untuk bisa mendapat uang tambahan agar bisa bertahan hidup di tanah rantau. Rutinitas yang aku lakukan sepulang kuliah dalam dua tahun terakhir perkuliahan. Ya, hidup memang seberjuang itu. Aku masih ingat gaji pertamaku saat itu. Tiga ratus ribu rupiah. Mungkin kecil nilainya, tapi saat itu terasa bahagia dan bersyukur sekali menerimanya. Belum lagi, kisah heroik di akhir bulan antara memberi reward pada diri atau mengirimkan sedikit rezeki kepada orang-orang tercinta di kampung halaman.

Sungguh benar adanya, merantau mengajarkan kita banyak pelajaran hidup yang tidak bisa didapatkan di bangku sekolah. Jika ditanya apakah aku menyesal memilih merantau? Tentu saja, tidak sama sekali. Aku bersyukur bisa menemukan kalimat mantra penyemangat dari Imam Syafi'i di masa putih abu-abu, hingga membuatku berani melangkah sampai sejauh ini. Dari merantau aku merasakan nikmatnya persaudaraan tanpa pertalian darah, seni tenang menghadapi masalah dan cara meminimalisir keluh kesah.

Kini, tak terasa sudah sebelas tahun terlewati di kota perantauan. Enam tahun mengeja hikmah di bumi Sriwijaya telah menorehkan banyak kisah dengan segala pembelajarannya. Dan sekarang, tahun ke-5 perjalananku mengeja hikmah di ibu kota. Tentu saja banyak sekali pembelajaran hidup yang telah ku dapati. Hidup memang tak mudah, tapi menyerah bukanlah opsi yang bijaksana dan kesatria. Percayalah, di tengah duka dan lara kehidupan yang fana, ada kenikmatan surga yang amat indah dan abadi. Namun, itu hanya bisa didapatkan oleh mereka yang mau berlelah-lelah berjuang.

Maka, teruslah berjuang duhai para perantau dan pengembara kehidupan.

#30DWCJilid41 #Day28

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menggunakan Microsoft Excel

Part 2 - Memaknai Arti Mengabdi

Sistem Komputer