Mimpi Seorang Gadis Pesisir
Tersebutlah seorang gadis yang lahir dan tumbuh di sebuah pulau kecil dekat pesisir di ujung selatan Sumatera. Masa kecilnya dipenuhi dengan nestapa, hidup dalam kemiskinan dan keterbatasan. Ibunya seorang buruh pemetik lada dan ayahnya seorang nelayan yang melaut bermodalkan perahu sewaan. Gadis itu bernama Nur Latifah Kasfiyah Hasbi. Sejak kecil, ia biasa dipanggil Nur. Kehidupan pesisir telah menempanya menjadi sosok yang kuat. Hidup bersama terik matahari dan gemuruh ombak, membentuknya menjadi sosok yang tangguh, setangguh para pelaut di tengah lautan. Keterbatasan dan kerasnya hidup tidak membuatnya menyerah. Justru kesulitan hiduplah yang menempanya menjadi gadis mandiri, pemberani dan teguh pendirian. Tak peduli seberapapun kerasnya hinaan datang padanya.
“Mbok yo mikir, hidup susah tapi mimpi ketinggian.” Ucap tetangga saat dulu dia kekeuh untuk melanjutkan kuliah.
Kenangan paling membekas adalah ketika orang tuanya datang meminjam uang kepada paman dan bibinya untuk bekal merantau menuntut ilmu. Respon paman dan bibinya sangat menyakitkan.
“Apa katamu kuliah? Kamu kira kuliah itu biayanya murah. Mbok ya mengukur diri dan tahu dirilah, Nur. Sudahlah, nggak usah kuliah, lulus SMA saja sudah syukur. Nggak usah banyak tingkah.” Ucap bibinya.
Ia dan orang tuanya pulang dengan tangan hampa. Jangankan uang pinjaman sebagai bekal merantau yang didapat, tetapi malah cacian dan hinaan.
Sejak saat itu Nur berusaha keras memutar otak bagaimana bisa melanjutkan kuliah tanpa membebani keluarganya. Akhirnya, dengan usaha yang luar biasa, ia pun berhasil mendapat beasiswa penuh dari pemerintah untuk menyelesaikan S1. Di kampus, dia tumbuh menjadi mahasiswa cemerlang dan berprestasi. Sering menjadi perwakilan kampus di ajang atau kompetisi nasional bahkan internasional.
Siapa sangka, Nur yang hidup dengan penuh keterbatasan, belasan tahun setelahnya bertransformasi menjadi ilmuwan ternama yang penemuannya membawa kemaslahatan bagi umat manusia. Ia tidak hanya berhasil menjadi sarjana pertama di desanya, tetapi juga seorang doktor dan ilmuwan hebat di bidang Fisika. Dengan kecerdasannnya, ia mendapat beasiswa melanjutkan S2 dan S3 fast track dari Beasiswa Presiden. Tidak tanggung-tanggung, dia berkesempatan melanjutkan studi di luar negeri di kampus terbaik dunia. Sesuatu yang terdengar sangat tidak mungkin bagi seorang gadis miskin yang lahir dan tumbuh di daerah pesisir, tapi menjadi nyata berkat kerja keras dan keuletannya.
Merantaulah,
Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (kerabat dan kawan).
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan.
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang.
Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa.
Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak akam kena sasaran.
Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus berdiam.
tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.
Merantaulah,
Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing (di negeri orang)
-Imam Syafi’i-
Kalimat dari Imam Syafi'i yang ia baca dalam novel karya Ahmad Fuadi telah sukses mendoktirinisasi pemikirannya. Kepercayaan dirinya tumbuh meski hidup dalam keterbatasan. Mungkin benar kata pepatah bijak: kita hari ini terbentuk dari apa yang kita baca kemarin.
Tidak percuma optimisme yang dibangunnya sejak kecil. Hidup sebagai anak pesisir bersama gemuruh ombak di lautan telah membangun mentalnya menjadi sosok yang luar biasa. Dia telah menang dalam pertarungan kehidupan. Sudah sepatutnya kita belajar dari sosok Nur, yang tidak pernah mengeluh dengan keadaan. Justru kemiskinan mampu membuat semangatnya bergelora, sehingga bisa keluar menjadi sosok pemenang. Semoga semakin banyak sosok Nur yang tumbuh dari kerasnya hidup, namun tak pernah berhenti bermimpi dan berharap. Tak hanya bermimpi, tetapi juga tekad yang kuat untuk mewujudkannya. Insyaallah.
#30DWCJilid41 #Day27
Komentar
Posting Komentar