Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2023

Tips Memilih Pemimpin Ideal Ala Milenial dan Gen Z

Tak terasa sebentar lagi pesta demokrasi terbesar di negeri ini akan kembali digelar. Euforia dan atmosfer politis makin terasa. Perbincangan tentang pemimpin ideal harapan bangsa menjadi semakin gencar dilakukan. Tidak hanya di forum resmi, tapi di warung makan, kedai kopi, kantor dan tidak terkecuali di sosial media. Keriuhan pembahasan tentang pemimpin ideal harapan rakyat baik dunia maya dan nyata mulai terasa. Para petarung politik pelan-pelan sudah mulai menunjukkan eksistensinya. Tidak hanya eksistensi, tapi juga mulai berebut simpati. Hal yang lumrah terjadi saat menjelang pesta demokrasi seperti saat ini. Padahal di hari-hari biasa, rakyat kecil menjerit mencari-cari di mana para wakil rakyatnya berada? Mana penunaian janji-janji politik mereka ketika masa kampanye? Kepada siapa rakyat harus mempercayakan nasibnya? Ah ya, mungkin tak baik juga selalu mengutuki keadaan. Lebih baik memanjatkan doa dan harap terbaik untuk keberlangsungsan demokrasi di negeri ini. Harapku dan...

Mengeja Hikmah di Tanah Rantau

"Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah berjuang." -Imam Syafi'i- Kutipan kalimat dari Imam Syafi'i yang kubaca dalam Novel Trilogi Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi saat masa putih abu-abu sukses mengubah cara pandangku tentang hidup. Merantau menjadi cita-cita yang kudambakan sejak duduk di kelas X SMA. Meskipun saat itu keinginanku ditentang keras oleh ayah. Ya, aku paham betul kekhawatiran ayah padaku. Melepas anak perempuan pertama dan satu-satunya di usia yang masih sangat belia bukanlah perkara mudah. Tapi sejak saat itu, aku bertekad tidak akan menyerah. Cukup sekali saja aku menyesal karena tidak diizinkan bersekolah di asrama. Untuk kedua kalinya, aku tidak boleh gagal lagi meyakinkan ayah. Tekadku dalam hati. Tahun 2012 adalah awal petualangan baru dan titik balik perja...

Mimpi Seorang Gadis Pesisir

Tersebutlah seorang gadis yang lahir dan tumbuh di sebuah pulau kecil dekat pesisir di ujung selatan Sumatera. Masa kecilnya dipenuhi dengan nestapa, hidup dalam kemiskinan dan keterbatasan. Ibunya seorang buruh pemetik lada dan ayahnya seorang nelayan yang melaut bermodalkan perahu sewaan. Gadis itu bernama Nur Latifah Kasfiyah Hasbi. Sejak kecil, ia biasa dipanggil Nur. Kehidupan pesisir telah menempanya menjadi sosok yang kuat. Hidup bersama terik matahari dan gemuruh ombak, membentuknya menjadi sosok yang tangguh, setangguh para pelaut di tengah lautan. Keterbatasan dan kerasnya hidup tidak membuatnya menyerah. Justru kesulitan hiduplah yang menempanya menjadi gadis mandiri, pemberani dan teguh pendirian. Tak peduli seberapapun kerasnya hinaan datang padanya. “Mbok yo mikir, hidup susah tapi mimpi ketinggian. ” Ucap tetangga saat dulu dia kekeuh untuk melanjutkan kuliah. Kenangan paling membekas adalah ketika orang tuanya datang meminjam uang kepada paman dan bibinya untuk bekal me...

Hikmah Perjalanan ke Negeri Tirai Bambu

Gambar
24 Juli 2016 adalah kali pertama aku menginjakkan kaki di tanah Cina. Jujur, menginjakkan kaki di bumi Allah yang satu ini merupakan salah satu pengalaman paling berkesan dalam hidupku. Pengalaman yang membawaku pada perjalanan pengembaraan hidup lainnya. Bisa dikatakan, menginjakkan kaki di tanah Cina telah membuka cakrawala berpikirku untuk dapat menjelajah dan melihat dunia secara lebih luas. Sebagai anak desa yang berkuliah dan bertahan hidup di perantauan dengan mengandalkan beasiswa, bisa berkunjung ke negeri orang adalah sebuah pengalaman dan perjalanan yang luar biasa. Boro-boro bermimpi bisa pelesiran keluar negeri. Bisa menginjakkan kaki ke luar pulau Sumatera saja saat itu adalah sebuah pencapaian dan kemewahan. Jujur, negeri tirai bambu telah berhasil mematri tekad dan keinginanku untuk melangkah lebih jauh. Perjalanan ke negeri tirai bambu tidak hanya memberikan pengalaman intelektual, tetapi juga spiritual. Siapa sangka negeri Cina yang konon katanya tertutup dan terisol...

Vibrasi Pikiran Manusia dan Tarikan Alam Semesta

“Perhatikan pikiran Anda, dia akan menjadi kata-kata. Perhatikan kata-kata Anda, dia akan menjadi tindakan. Perhatikan tindakan Anda, dia akan menjadi kebiasaan. Perhatikan kebiasaan Anda, dia akan menjadi karakter. Perhatikan karakter Anda, itu akan menjadi takdir Anda.” Kalimat di atas menggambarkan betapa besarnya dampak dari kekuatan pikiran. Tak heran jika para filsuf menyarankan kita agar selalu berpikir positif. Semua yang ada di alam semesta ini terbentuk dari energi. Begitu pula kita sebagai manusia. Manusia itu bagaikan magnet. Energi dari magnet itu akan menarik segala sesuatu yang serupa dengannya. Dan magnet itu ada di dalam pikiran kita. Oleh karena itu, pikiran mampu menjadi pilot atas apa yang ingin kita wujudkan, kita cita-citakan, bahkan yang sekadar kita imajinasikan. Sekali fisik kita merencanakan dan mematrikan imajinasi dalam pikiran (atau yang kita kenal sebagai niat atau afirmasi), fisik kita mulai mencari jalan bagaimana merealisasikan apa yang sudah kita pikir...

Mendung Tak Selamanya

Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin terus menerus akan terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam. -R.A. Kartini – Sajak di atas rasanya tepat sekali menggambarkan tentang kehidupan seorang manusia. Tidak ada bahagia yang selamanya, dan tidak ada pula duka yang bertengger selamanya. Suka dan duka adalah paket komplet kehidupan yang niscaya akan dirasakan setiap insan yang hidup di dunia. Maka, tak salah jika ada pepatah bijak yang mengatakan bahwa berbahagialah secukupnya dan bersedihlah seperlunya. Pesan yang kutangkap dari pepatah ini adalah jangan berlebihan dalam hal apapun, karena segala yang berlebihan akan tidak baik. Tahun kemarin merupakan tahun dengan duka mendalam bagiku dan keluarga besar. Kehilangan anggota keluarga yang sangat kami cinta menjadi duka yang sangat dalam bagi kami sekeluarga. Ya, kehilangan sesorang yang dicintai tentu saja menjadi luka dan duka bagi siapa saja yang merasakannya. ...

Part 3 - Bukan Kembali Cepat, Tetapi Tentang Kembali di Waktu dan Wadah yang Tepat

Well, sudah tepatkah memaknai dan menerjemahkan arti dari kontribusi dengan mengharuskan awardee mengabdikan diri dari dalam negeri? Dalam konteks ini, soal kebijakan LPDP yang mengharuskan alumni beasiswa LPDP untuk segera pulang setelah merampungkan studi, sepertinya memang perlu ditinjau kembali. Dalam kesempatan berdiskusi dengan salah seorang ilmuwan diaspora yang sudah lama mengabdikan dirinya menjadi akademisi/ilmuwan di institusi pendidikan luar negeri, ada beberapa hal yang membuat mereka memilih berkarier di luar negeri. Pertama, atmosfer riset di luar negeri yang sangat mendukung untuk berkembang. Terhubung dengan komunitas riset merupakan sebuah privilege bagi seorang peneliti dalam mengembangkan keilmuannya. Dengan jejaring komunitas riset yang mumpuni, mereka akan mampu mengembangkan penelitian dan riset yang bermutu untuk kemajuan IPTEK dunia. Atmosfer riset ini berkaitan erat dengan pengalaman, networking dan fasilitas yang mendukungnya. Dapat terhubung dengan para...

Part 2 - Memaknai Arti Mengabdi

Dalam tulisan saya sebelumnya (Mengabdi Haruskah Pulang?), saya sudah berbagi perspektif dari sisi pemberi atau pengelola beasiswa. Dalam tulisan kali ini, saya mencoba membedahnya dari perspektif penerima beasiswa, khususnya yang memilih untuk tidak kembali. Membedah persoalan alumni beasiswa LPDP luar negeri yang memilih tidak kembali ke tanah air setelah selesai studi memang hal yang mengundang perdebatan dan tentu saja krusial untuk dibedah dari sisi pembuat kebijakan.   Penyamaan persepsi tentang makna pengabdian ini akan berdampak positif bagi kedua pihak (baik pemberi maupun penerima beasiswa), sehingga tidak adalagi yang merasa menjadi pihak yang tersalahkan atau terdiskreditkan. Mengapa saya mengatakan hal ini krusial? Karena, kalo sudah menyoal janji atau komitmen adalah sesuatu yang potensial untuk ditagih atau dipenuhi. Pertanyaannya, apakah persyaratan mengabdi (dengan kembali ke tanah air) bagi para awardee masih relevan untuk diterapkan? Seberapa besar dampak po...

Part 1 - Haruskah Pulang Untuk Mengabdi?

Akhir-akhir ini jagat sosial media sedang ramai membicarakan tentang alumni salah satu beasiswa teranyar di republik ini yang memilih untuk tidak kembali ke tanah air setelah merampungkan studi. Teman-teman mungkin sudah bisa menebak, beasiswa apa yang saya maksud? Ya, apalagi jika bukan beasiswa LPDP, beasiswa yang menjadi incaran dan primadona banyak anak negeri termasuk saya sendiri. Dari beberapa artikel dan pemberitaan yang beredar, alumni beasiswa LPDP yang tidak pulang jumlahnya mungkin terbilang sedikit. Berdasarkan informasi yang saya kutip dari laman Kompas, 25 Januari 2023 jumlah alumni beasiswa LPDP yang memilih tidak kembali ke tanah air ada sebanyak 413 orang atau sekitar satu persen dari jumlah total penerima beasiswa. Apakah jumlah ini terbilang sedikit? Menurut saya, ini bukan hanya persoalan jumlah, tapi konkretnya sejauh mana kontribusi dan dampak yang sudah diberikan para duta terbaik bangsa ini. Untuk itu, saya tergerak membedah persoalan ini dari beberapa perspekt...

Cinta Pertamaku

“Kita tidak bisa memilih dilahirkan di keluarga mana, namun kita bisa memilih bagaimana kita bisa menebarkan cinta di dalamnya.” Ada juga yang menuliskan kata bijak yang isinya hampir sama, “Kita tidak bisa memilih dilahirkan di keluarga mana, namun kita bisa memilih ingin menciptakan keluarga yang seperti apa nantinya.” Pepatah bijak ini tentu saja relate bagi semua orang termasuk aku. Aku terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. Ayah bekerja sebagai tengkulak ikan di pasar dengan penghasilan yang tidak menentu. Sedangkan ibu hanyalah seorang Ibu Rumah Tangga (IRT). Aku memiliki tiga orang adik yang saat ini sedang menempuh pendidikan. Hal yang sangat aku syukuri di keluargaku, adalah memiliki orang tua yang sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Orang tuaku rela melakukan apa saja asalkan bisa mendapatkan rezeki yang halal untuk menghidupi aku dan adik-adikku. “Hidup boleh susah, tapi urusan pendidikan nomor satu. Ayah nggak punya banyak harta untuk ditinggalkan, tapi aya...

Lampu Merah

  Saya rasa setiap kita, tak ada yang tak pernah menemui lampu merah di jalan. Hal yang selama ini saya perhatikan adalah tanpa sadar kita telah membantu menyebarkan kepada sesama tentang pelanggaran yang telah menjadi kebenaran. Setiap kita bertemu lampu merah, hal itu terulang kembali. Hal yang kecil menurut kita, namun tetap akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Bukankah hanya secuil Zarrah pun akan dihisab kelak? Di banyak kesempatan mengisi mentoring, mungkin sebagian kita seringkali menjelaskan kepada mentee tentang ghazwul fikri, bagaimana hal itu bisa mempengaruhi alam bawah sadar kita. Lihatlah sekitar, betapa definisi kebenaran itu telah bergeser. Dewasa ini, kita seringkali menganggap kebenaran adalah sesuatu yang lumrah dilakukan. Hal yang salah, namun jika dilakukan terus- menerus dan terbiasa, apalagi ‘berjamaah’, maka otomatis, itulah sebuah kebenaran. Saya tidak berbicara tentang pelanggaran lampu merah yang memang jelas-jelas masih satu menit lagi, tapi masi...

Meyakini Janji Allah

Beberapa hari yang lalu, saya sempat deep talk dengan seorang sahabat membicarakan tentang menjaga keyakinan atas janji Allah. Jujur, membicarakan topik ini membuat saya menjadi sedih dan haru di waktu bersamaan. Tak dipungkiri, di saat saya sedang merasa lelah, sendiri, dan terpuruk, seringkali saya termenung memikirkan lika-liku perjalanan hidup saya yang tak mudah ini. Tak ayal saat kesedihan mendera, saya lebih mudah mengeluh dan membandingkan diri dengan orang lain. Membandingkan diri dengan banyak hal. Karier, pekerjaan, pendidikan, romansa, keluarga, materi dan sebagainya. Tak jarang timbul rasa iri melihat pencapaian dan kehidupan orang lain yang sepertinya penuh dengan kebahagiaan dan kesuksesan. "Kok enak ya jadi dia? Masih muda, punya karier dan pekerjaan bagus, hidup berkecukupan, dan memiliki pasangan yang setia." Ucapku pada seorang sahabat. "Yang tampak di penglihatan mata kita, belum tentu seideal yang kita pikirkan, Hes. Percayalah bahwa setiap orang ...

Usia 25, Idealnya Punya Apa?

Akhir-akhir ini, sosmed sedang ramai membahas pencapaian di usia 25. Berawal dari jagat dunia maya Twitter yang dihebohkan dengan trending topic ”Usia 25”. Keriuhan ini bersumber dari sebuah konten gambar yang bertuliskan, ”Usia 25 tahun idealnya punya apa? Tabungan 100 juta? Cicilan rumah sisa 20 persen lagi beres? Punya kendaraan pribadi. Gaji minimal 8 juta?'' Apakah ini adalah kondisi ideal bagi seseorang berusia 25 tahun? Well, sebagai anak muda yang juga sedang berada di fase ini, gue pun bertanya-tanya. Apa yang sudah gue capai dan lakuin di usia 25+ ini? Apakah parameter sukses usia 25 tahun bersifat saklek seperti yang disebutkan di atas? Kalo iya, rasanya kok gue merasa kerdil. Apalah daya usia 25 tahun baru memulai perjalanan menjadi seorang Aparatur Sipil Negara (ASN). Kalau memakai istilah orang tua, usia kayak gue sekarang ini ada di fase belajar menata hidup. Boro-boro punya rumah, mobil, tabungan 100 juta dan lain-lain. Ngga menjadi beban orang tua dan bisa b...