Part 3 - Bukan Kembali Cepat, Tetapi Tentang Kembali di Waktu dan Wadah yang Tepat
Well, sudah tepatkah memaknai dan menerjemahkan arti dari kontribusi dengan mengharuskan awardee mengabdikan diri dari dalam negeri? Dalam konteks ini, soal kebijakan LPDP yang mengharuskan alumni beasiswa LPDP untuk segera pulang setelah merampungkan studi, sepertinya memang perlu ditinjau kembali.
Dalam kesempatan berdiskusi dengan salah seorang ilmuwan diaspora yang sudah lama mengabdikan dirinya menjadi akademisi/ilmuwan di institusi pendidikan luar negeri, ada beberapa hal yang membuat mereka memilih berkarier di luar negeri.
Pertama, atmosfer riset di luar negeri yang sangat mendukung untuk berkembang. Terhubung dengan komunitas riset merupakan sebuah privilege bagi seorang peneliti dalam mengembangkan keilmuannya. Dengan jejaring komunitas riset yang mumpuni, mereka akan mampu mengembangkan penelitian dan riset yang bermutu untuk kemajuan IPTEK dunia. Atmosfer riset ini berkaitan erat dengan pengalaman, networking dan fasilitas yang mendukungnya. Dapat terhubung dengan para periset yang ahli di bidangnya dan didukung dengan fasilitas riset terbaik, tentu saja akan menunjang pengembangan ilmu dan pengetahuan. Jika mereka dipaksa berpisah dengan komunitas riset yang sudah terbangun dengan sangat baik di luar negeri, tentu saja akan membuat potensi mereka untuk berkembang menjadi terhambat.
Kedua, peluang dan kesempatan untuk bertumbuh di institusi, organisasi dan/atau lembaga terbaik dunia. Untuk bertahan di luar negeri sebagai seorang periset atau berkarier sebagai seorang profesional, bukanlah suatu perkara mudah. Hanya orang-orang yang berkompeten yang mampu bersaing dengan SDM unggul lainnya dari berbagai belahan dunia. Jadi sebenarnya, hanya orang-orang dengan kualitas dan kapabilitas di atas rata-rata yang mampu bertahan di luar negeri. SDM unggul yang mampu bersaing di kancah global, seharusnya didukung oleh negara asalnya agar mampu mengembangkan talenta terbaiknya. Akses untuk berkarier di tempat terbaik di organisasi, lembaga atau intitusi terbaik dunia merupakan kesempatan emas yang tidak diperoleh sembarang orang. Jika kesempatan ini mampu dimanfaatkan dengan baik, tentu saja akan membawa manfaat bagi mereka dan juga negara asalnya. Oleh karena itu, untuk kasus seperti ini seharusnya dapat diakomodir atau dipertimbangkan kembali oleh pemberi beasiswa. Sehingga bentuk kontribusi yang dirumuskan mampu memberikan dampak yang lebih besar terhadap bangsa dan negara.
Dalam hal ini, pemerintah seharusnya lebih serius memikirkan terkait manajemen talenta untuk keahlian mereka. Jangan sampai ada kasus overqualified atau infrastruktur dunia kerja dalam negeri belum siap menampung mereka dengan kemampuan di atas rata-rata. Untuk itu, alih-alih kita terus menerus debat kusir tak berkesudahan menyoal bentuk kontribusi, lebih baik menyamakan persepsi tentang makna kontribusi dari sudut pandang yang lebih luas.
Toh, pada akhirnya, jika semakin banyak anak bangsa yang mampu bersaing di kancah dunia, bangsa kita pula yang akan memetik hasilnya. Esok hari tak menutup kemungkinan, mereka yang sudah sukses kuliahnya mampu mengangkat derajat keluarganya, lingkungannya dan tentu saja mengharumkan negaranya. Kita juga yang bangga saat para awardee ini sudah jadi bos Google, bos Facebook, ilmuwan hebat di lembaga riset atau intitusi terbaik dunia misalnya, kan mungkin ada manfaatnya. Bisa merekrut karyawan dari Indonesia, bisa ngasih beasiswa kayak mentor saya yang udah jadi associate professor di Kanada. Hehe. Kesadaran dan kepedulian tidak dapat dipaksakan, dua hal ini niscaya akan tumbuh dengan sendirinya. Buat mereka yang ngelunjak, tak tahu malu dan tak tahu diri, itu hanya oknum, kasus per kasus. Tidak semuanya. Tidak bisa dipukul rata.
Kebijakan dan kewajiban pulang buru-buru setelah menyelesaikan studi atau kewajiban untuk mengabdi dan berkontribusi dari dalam negeri memang perlu dikaji ulang. Karena, hal lain yang dicari saat belajar di luar negeri adalah networking dan pengalaman kerja. Jadi, ini bukan tentang kembali cepat, tetapi tentang kembali di waktu dan wadah yang tepat.
#30DWCjilid41 #Day21
Komentar
Posting Komentar