Cinta Pertamaku

“Kita tidak bisa memilih dilahirkan di keluarga mana, namun kita bisa memilih bagaimana kita bisa menebarkan cinta di dalamnya.”

Ada juga yang menuliskan kata bijak yang isinya hampir sama, “Kita tidak bisa memilih dilahirkan di keluarga mana, namun kita bisa memilih ingin menciptakan keluarga yang seperti apa nantinya.” Pepatah bijak ini tentu saja relate bagi semua orang termasuk aku.

Aku terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. Ayah bekerja sebagai tengkulak ikan di pasar dengan penghasilan yang tidak menentu. Sedangkan ibu hanyalah seorang Ibu Rumah Tangga (IRT). Aku memiliki tiga orang adik yang saat ini sedang menempuh pendidikan. Hal yang sangat aku syukuri di keluargaku, adalah memiliki orang tua yang sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Orang tuaku rela melakukan apa saja asalkan bisa mendapatkan rezeki yang halal untuk menghidupi aku dan adik-adikku.

“Hidup boleh susah, tapi urusan pendidikan nomor satu. Ayah nggak punya banyak harta untuk ditinggalkan, tapi ayah akan berjuang supaya kalian mendapatkan pendidikan terbaik. Tugas kalian adalah belajar dengan tekun supaya bisa jadi orang yang berhasil.” Ucap ayah pada kami saat momen makan malam bersama.

Ya, kehangatan keluarga inilah yang sangat aku syukuri. Meskipun terlahir di keluarga dengan keterbatasan ekonomi, aku bersyukur memiliki keluarga yang lengkap, hangat dan saling menyayangi satu sama lain. Sesuatu hal yang mungkin diidam-idamkan banyak orang di luar sana. Masih terekam dalam ingatan, masa-masa sekolahku dulu yang penuh perjuangan namun tetap manis untuk dikenang. Aktivitas mengayuh sepeda puluhan kilometer untuk sampai ke sekolah, atau menjajakan sayuran keliling kampung sepulang sekolah. Semua ku lakukan supaya bisa memperoleh uang tambahan agar bisa menabung untuk membeli peralatan sekolah. Bisa dikatakan perjuangan masa kecil yang tak mudah telah membentukku menjadi pribadi tangguh seperti sekarang.

Hal berkesan lainnya adalah saat ayah mengantarku ke suatu bank di dekat kota untuk mencairkan beasiswa. Perjalanan menempuh ratusan kilometer dari desa ke kota dengan menggunakan motor vespa kebanggaan. Cerita kehujanan di jalan sampai air hujan mengering di badan menjadi momen kebersamaanku dengan ayah yang tidak akan terlupakan. Motor tua klasik tahun 80-an yang manfaatnya luar biasa dan menjadi saksi sejarah perjuangan masa kecil.

Ayah adalah sosok yang luar biasa bagiku. Dialah cinta pertamaku yang mengajarkanku keberanian, kemandirian, kejujuran, kerja keras, tekad yang kuat dan nilai-nilai kehidupan lainnya. Satu lagi momen paling memorable bagiku, yaitu saat ayah melepasku merantau menimba ilmu di bumi Sriwijaya. Ayah selalu menampakkan ketegarannya di depan keluarga, padahal ku tahu betul bahwa ada semburat kekhawatiran di wajahnya harus melepasku merantau sendirian ke tempat orang.

“Kamu yakin bisa mengurusi pendaftaran kuliah sendiri? Maafkan ayah belum bisa ikut mengantarmu mendaftar ulang, karena uang ayah terbatas untuk keperluan lainnya. Kamu berani berangkat sendiri ke sana?” tanya ayah padaku.

“Insya Allah bisa, Yah. Disana juga akan bertemu dengan teman-teman satu daerah. Jadi aman, nggak akan sendirian. Ayah nggak perlu khawatir. Nanti kalau bingung, aku bisa bertanya.” Ucapku meyakinkan. Ada kesedihan dan kekehawatiran terpancar dari raut wajahnya, namun tak ingin diperlihatkan di depanku. Toh, tidak ada pilihan lain, jika berangkat berdua maka biayanya akan lebih mahal. Berangkat seorang diri ke perantauan bisa menghemat ongkos yang lumayan. Uangnya bisa dipergunakan untuk kebutuhan bertahan hidup di awal merantau.

Ayah adalah sosok yang sederhana, tegar, dan penyabar serta penuh cinta kasih pada keluarga. Semua terlihat dari bagaimana ia memperlakuan ibu dan kami, anak-anaknya. Sebagai seorang anak sulung perempuan di keluarga, aku bertekad untuk membahagiakan ayah dan ibu. Setiap tetes keringatnya akan ku balas dengan senyum kebahagiaan. Meskipun menjadi sandwich generation terkadang melelahkan, tapi aku percaya bahwa ini adalah jalan juang dan insya allah bernilai ibadah jika dijalani dengan penuh keikhlasan.

Qadarullah, saat ini Allah takdirkan aku bekerja di ibu kota. Bekerja di sebuah lembaga negara yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Di sebuah lembaga yang berkat program beasiswa yang dikelolanya, telah berhasil mengantarkanku menjadi seorang sarjana. Siapa yang bisa menyangka bahwa aku mampu bertahan sampai ke titik ini? Semua ini tentu saja karena doa-doa indah dari sepasang keramat paling berharga di dunia, yaitu ayah dan ibuku. Benar bahwa janji Allah itu nyata. Barang siapa yang bersyukur, maka akan Allah tambahkan nikmatnya. Dan tentunya setelah kesulitan, ada kemudahan. Insya Allah. Kita hanya perlu meyakininya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menggunakan Microsoft Excel

Part 2 - Memaknai Arti Mengabdi

Sistem Komputer