Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2023

Kontemplasi

Gambar
"Selama masih di dunia, ya kita nggak bisa melarikan diri dari masalah atau persoalan hidup. Bisanya itu cuma kasih jeda istirahat, terus ya maju lagi. Dihadapi, bukan dihindari." Itu petuah orang tua yang selalu saya ingat ketika saya hampir menyerah karena sesuatu hal. Akhir-akhir ini saya dipertemukan Allah dengan orang-orang yang mengingatkan kembali bahwa saya tidak sendirian dalam ikhtiar menjadi lebih baik. Percaya nggak? Mereka yang terlihat baik-baik saja di media sosialnya atau bahkan ketika bertemu terlihat ceria dan masih bisa tersenyum, ternyata memiliki ujian hidup yang lebih pelik? Ujian dari berbagai jenis, entah terkait urusan pekerjaan, pertemanan ataupun keluarga. Dari situ saya sadar bahwa kemampuan membandingkan adalah sebuah anugerah ya, jika digunakan untuk mengingat-Nya. Salah satu anjuran Rasulullah S.A.W yang saya ingat adalah untuk melihat ke keadaan orang yang berada lebih "di bawah" dalam hal dunia. “Mungkin pandemi ini adalah salah sat...

Perjalanan Hidup (Part 2)

“Doamu yang mana, usahamu yang ke berapa, kau tak pernah tahu mana yang akan membuahkan hasil. Tugasmu hanya satu di antara keduanya. Maka, perbanyaklah!” -Anonim- Jika ada yang bertanya, mengapa saya memilih bekerja di kota metropolitan Jakarta, tidak di kampung halaman saja supaya dekat dengan orang tua misalnya? Lagi, saya hanya bisa tersenyum meresponnya, kemudian substansi penjelasan saya akan mengarah ke quotes di atas. Kira-kira siapa juga yang ingin tinggal berjauhan dengan keluarga? Apa-apa dilakukan secara mandiri. Sendiri. Coba jawab! Saya percaya bahwa rezeki setiap orang sudah Allah yang mengatur dan ia tak kan pernah tertukar. Dari sekian ikhtiar, doa dan tawakal yang saya lakukan, takdir membawa saya berkarya di kota ini. Sesuatu yang sebelumnya tak pernah dituliskan di dalam daftar mimpi, apalagi direncanakan. Sejujurnya, tujuan awal saya hijrah ke Jakarta adalah ingin mengikuti kursus IELTS untuk persiapan studi lanjut. Karena, di kota saya kursus tersebut belum ada ya...

Perjalanan Hidup (Part 1)

Gambar
Time flies so fast.. Flashback pertama kali menginjakkan kaki di kota metropolitan Jakarta. Pernah kerja serabutan & projekan, pernah juga kerja di salah satu BUMN sebagai pegawai kontrak selama 1 tahun. Ikut gernas #1000startupdigital kemudian iseng membangun startup yang alhamdulillah telah banyak memberikan pengalaman dan mengajarkanku makna berjuang. Ketemu banyak orang dengan berbagai macam karakter. Belajar banyak hal seperti, design thinking, digital marketing, seni melobi dan bernegosiasi serta lebih banyak lagi. Terima kasih untuk semuanya ya rabb. Ups and downs yang membentuk aku menjadi seperti sekarang. Memang sudah sepatutnya kita bersyukur dalam keadaan apapun. Perjuangan ini memang tak mudah. Hujan dan badai kehidupan tak kan berhenti menghampiri. Namun percayalah, bahwa akan akan ada pelangi setelahnya. Sampai detik ini, tak jarang saya mendapatkan pesan dari teman lama yang sudah jarang bertemu. Baik itu pesan berupa doa, ucapan selamat, pertanyaan, pernyataan dan...

Keterlibatan Perempuan di Ranah Publik

Menurut data BKN per 30 Juni 2022, jumlah ASN wanita mendominasi bila dibandingkan dengan ASN Pria. Dengan jumlah ASN wanita sebanyak 2.353.473 (54%), lebih banyak 8% dari jumlah ASN pria yakni 1.991.079 (46%). Hal ini tentu saja menjadi berita baik dan angin segar, dikarenakan keterlibatan perempuan dalam ranah publik (dalam hal ini menjadi ASN) mengalami peningkatan beberapa tahun belakangan. Namun, apakah peningkatan jumlah (kuantitas) keterlibatan perempuan di ranah publik sejalan dengan peningkatan karier dan kesempatan dalam mengisi posisi-posisi strategis? Faktanya, meskipun secara persentase perempuan lebih besar porsi keterwakilannya di ruang publik dalam hal ini persentase menjadi PNS. Namun, PNS perempuan yang mengisi promosi jabatan masih kecil. Bahkan dalam beberapa kesempatan wawancara, rendahnya jumlah PNS perempuan mengisi promosi jabatan dikarenakan keengganan mengurus proses naik jabatan. Hal ini disinyalir perempuan lebih mendahulukan keluarga dibandingkan karier. Be...

Bukan Balapan

Gambar
Sumber: dokumentasi pribadi Hidup ini bukan perlombaan balap lari, pemenangnya bukan yang tercepat mencapai garis akhir, yang kalah juga bukan yang gagal masuk garis finish . Tapi, dari kecil kita sering disuruh cepat-cepat. Dari disuruh untuk makan lebih cepat, berberes lebih cepat atau mandi lebih cepat. Bahkan setelah dewasa, kita masih disuruh cepat-cepat menyelesaikan kuliah, cepat-cepat dapat pekerjaan yang bagus, cepat-cepat menikah, punya rumah, anak, kendaraan, dan lain sebagainya. Ya, seringkali kita diburu-buru waktu, seakan yang tercepat adalah pemenangnya. Memang, dunia saat ini menuntut kita semua termasuk anak-anak untuk melakukan segala sesuatu dengan cepat. Namun, mengambil waktu sejenak untuk melambat bukanlah hal yang berlebihan. Coba kamu ingat, kapan terakhir kamu "tidak melakukan apapun", misal tidak cek notif whatsapp atau email , tidak merencanakan apapun di hari itu, tidak mengkhawatirkan rumah kotor, cucian numpuk? Bagaimana rasanya? Beristirahat se...

Jakarta, Kota Persinggahan atau Menetap?

Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa ibu kota negara ini akan menjadi tempat persinggahanku selanjutnya. Dulu, aku sempat berniat untuk kembali ke kota ini, namun bukan untuk bekerja melainkan menimba ilmu atau sekadar menjadi destinasi berlibur bersama keluarga. Ah, lagi-lagi manusia hanya bisa berencana, namun Allah punya kuasa dan Maha Penentu segalanya. Aku jadi teringat dengan firman Allah berikut ini:  “Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 216) Aku percaya bahwa Allah punya skenario terbaik untuk hamba-Nya. Mungkin saja aku yang belum mampu membaca pesan cinta dari-Nya. Qadarullah, tahun ini merupakan tahun ke-5 ku menjadi penghuni ibu kota. Aku sudah terbiasa menikmati kemacetan Jakarta beserta hiruk pikuknya. Berangkat dan pulang bekerja disuguhi pemandangan sesaknya jalanan, karena lautan manusia. Polusi udara da...

Awal yang Tak Mudah

Hari yang ditunggu pun tiba, yakni pengumuman Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Sejak dua hari yang lalu Nur tak bisa tidur karena gelisah. Ia pun tak bergairah memasukan makanan ke mulutnya. Bukan tanpa alasan. Hari ini adalah hari yang amat bersejarah dalam hidup Nur. Ibarat pertarungan, hari inilah yang menentukan kalah atau menangnya. Ia terlanjur bertekad, bagaimanapun caranya ia harus melanjutkan kuliah. Tekadnya sudah bulat. Ingin menjadi sarjana pertama di kampungnya. Hari ini bukan hanya sekadar pertarungan, tetapi juga pembuktian. Pembuktian ke bibi, tetangga, dan teman-temannya bahwa pendidikan adalah hak semua orang. Cibiran orang-orang kampung akan dirinya tak pernah dihiraukan. Ia tak peduli omongan orang. Ia hanya ingin menghidupkan mimpinya dan terpenting baginya adalah dukungan Ibu dan Bapaknya. Nur ingin membuktikan bahwa kuliah bukan hanya hak anak-anak perkotaan, tetapi juga hak anak kampung sepertinya. Jika berhasil, ini tak hanya menjadi keberhasil...

Tekad Baja

Menuju detik-detik ujian nasional (UN), Nur tekun berlatih mengerjakan soal. Targetnya tak tanggung-tanggung, ia bertekad menjadi peraih nilai tertinggi UN di tingkat provinsi. Jiwa kompetitifnya memang sudah terpupuk sejak kecil. Keterbatasan akses dan fasilitas tidak lantas membuat dirinya kerdil dan nyalinya menjadi ciut. Bermodal laptop bekas dan modem yang dibelinya dari hasil jerih payah menang lomba, dimanfaatkan untuk berselancar di internet guna mencari kumpulan soal ujian dan informasi beasiswa S1. Buah dari ikhtiar dan kerja kerasnya mulai terlihat. Nur berhasil menjadi salah satu siswa yang berhak mendaftar SNMPTN jalur beasiswa bidikmisi. “Alhamdulillah Pak, Nur dapat beasiswa bidikmisi. Jadi ndak perlu repot-repot mikirin biaya kuliah lagi.” Ucapnya pada Bapak. “Beasiswa Bidikmisi itu apa Nur?” tanya Bapak. “Itu beasiswa S1 full dari pemerintah, Pak. Jadi kita ndak perlu bayar uang kuliah, karena semua biaya sudah ditanggung pemerintah, dari mulai biaya pendidikan, ...

Untuk Apa Berpendidikan?

Dalam suatu percakapan bersama tim muda wangka, kami membicarakan isu-isu yang menarik untuk diangkat sebagai topik webinar  dan juga program pengembangan pemuda di komunitas. Ketika sebagian besar dari kami tertarik membahas isu tentang kemajuan teknologi, startup, digitalisasi dan lain-lain. Saya yang paling keukeuh dan setia untuk concern membahas isu pendidikan. Ini bukan karena saya tidak tertarik sama isu yang lain. Menurut saya, pendidikan adalah kunci utama untuk menyelesaikan akar dari segala permasalahan. Jika semua anak bangsa ini berpendidikan, mereka akan berpikir visioner ke depan. Namun jika tidak, jangankan berbicara tentang kemajuan zaman, menemukan alasan (strong why) harus berpendidikan saja akan kesulitan. Faktanya ketika anak muda di kota-kota besar sudah jauh membicarakan perkembangan teknologi A, B, C. Ironinya, mereka yang tinggal di pelosok daerah, masih belum mengetahui esensi mereka berpendidikan untuk apa? Kok bisa ya saya dengan pede-nya ngomong gini? K...

Abdi Negara, Ini Dia Jalan Ninjaku

Sebagai pemuda, jika ditanya apa kontribusimu hari ini untuk kemajuan bangsa? Jawaban dari kita pastinya akan sangat beragam. Tentunya ada seribu jalan untuk mengabdi dan berbakti pada negeri ini, kawan! Peran pemuda dalam sejarahnya memperjuangkan kemerdekaan tak perlu dinafikkan. Siapa yang tak kenal Wikana? Tokoh pemuda yang mendesak Bung Karno untuk segera menyatakan kemerdekaan Indonesia setelah mendengar kekalahan Jepang melawan sekutu pada 14 Agustus 1945. Ia, Chaerul Saleh, Sukarni dan pemuda-pemuda lainnya berperan besar mewujudkan kemerdekaan yang hari-hari ini kita nikmati. Perjuangan pemuda hari ini tentunya tak seperti para pahlawan kita dahulu, yang identik dengan perjuangan di medan perang melawan penjajah demi merebut kemerdekaan. Di zaman yang semakin berkembang ini, maka bentuk perjuangan semakin kompleks dan beragam. Ada yang berjuang menjaga kedaulatan bangsa di garda terdepan, ada yang berjuang dengan memberdayakan sesama melalui berbagai gerakan, dan ada pula yang...

Menjemput Peran Terbaik

     Tulisan ini didedikasikan untuk teman-teman yang request dibuatkan resume materi talkshow bertema "Muslimah Aktif, Produktif dan Inspiratif" yang diselenggarakan oleh Tanri Abeng University. Sungguh, saking keren dan berbobotnya materi yang disampaikan oleh narasumber, yakni Teh Qoonit (Farah Qoonita) saya sampai bingung akan memulai darimana tulisan ini. Ahiya! First , saya ingin mengucapkan terima kasih kepada panitia yang telah menyelenggarakan talkshow ini, seakan   menjawab kegalauan hati saya selama beberapa bulan belakangan . Allah memang Maha Baik. Tak ingin saya galau berlarut-larut terkait pilihan dan langkah hidup yang saya ambil, segera Allah beri petunjuk berupa jawaban akan segala kegundahan melalui perantara orang-orang baik ini. So sweet banget yaa.. Kadang suka speechless dengan cara Allah berkomunikasi pada hamba-Nya. Romantis sekali!            Di usia 20-30 tahun, merasa gamang ataupun kurang yakin a...

Ikhtiar Tanpa Batas

Ujian Nasional semakin dekat. Nur yang saat ini kelas XII SMA menghabiskan waktunya hari demi hari berkutat dengan buku-buku dan tekun mengerjakan soal-soal ujian. Nur memang dikenal sebagai anak yang tekun dan cerdas di sekolahnya. Ia sering menjadi perwakilan sekolah dalam perlombaan ataupun kompetisi baik di bidang akademik maupun non akademik. Dalam bidang akademik Nur pernah memperoleh medali emas dalam olimpiade Fisika tingkat provinsi, menjuarai kompetisi karya tulis ilmiah nasional, finalis lomba cerdas cermat empat pilar dan perlombaan lainnya. Dalam bidang non akademik, ia juga pernah membawa sekolahnya menjadi juara turnamen voli tingkat kabupaten. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Nur tak pernah absen juara kelas. Tak heran, jika ia mendapatkan beasiswa sejak sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah atas. Hadiah dari perlombaan berupa uang pembinaan ditabungnya untuk membantu kehidupan keluarga dan memenuhi kebutuhan sekolahnya. Selain itu, Nur juga seorang pekerja...

Mutiara dari Pesisir - Melawan Kelaziman?

Malam itu malam yang tak kan terlupakan dalam hidup Nur. Susah payah ia meyakinkan orang tuanya agar rela melepasnya merantau jauh ke pulau seberang. Tanpa keraguan, Nur mengambil keputusan yang tidak lazim dilakukan oleh gadis di desanya. Ya, Nur yang keras kepala dan bertekad baja, tidak tergoyahkan dengan cibiran tetangga tentang dirinya. “Dasar anak tidak tahu diri. Buat makan aja susah, ngotot mau kuliah. Mbok ya sadar diri, bayar iuran sekolah saja bapaknya mesti berutang sana sini. Sekarang minta kuliah, ke pulau Jawa lagi,’’ ujar bibinya di tengah orang-orang yang sedang memetik lada.   Yang mendengar pun mengangguk mengiyakan perkataan bibinya. Tidak berhenti sampai disitu, tak jarang obrolan menyakitkan tetangga tentang dirinya juga sampai ke telinganya. Disudutkan, diremehkan, dimatikan impiannya menjadi hal yang biasa dihadapinya. Nur memang gadis yang unik dan langka. Di saat gadis di desanya tamat sekolah menengah atas berbondong-bondong bekerja serabutan dari m...