Jakarta, Kota Persinggahan atau Menetap?
Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa ibu kota negara ini akan menjadi tempat persinggahanku selanjutnya. Dulu, aku sempat berniat untuk kembali ke kota ini, namun bukan untuk bekerja melainkan menimba ilmu atau sekadar menjadi destinasi berlibur bersama keluarga. Ah, lagi-lagi manusia hanya bisa berencana, namun Allah punya kuasa dan Maha Penentu segalanya. Aku jadi teringat dengan firman Allah berikut ini: “Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 216)
Aku percaya bahwa Allah punya skenario terbaik untuk hamba-Nya. Mungkin saja aku yang belum mampu membaca pesan cinta dari-Nya.
Qadarullah, tahun ini merupakan tahun ke-5 ku menjadi penghuni ibu kota. Aku sudah terbiasa menikmati kemacetan Jakarta beserta hiruk pikuknya. Berangkat dan pulang bekerja disuguhi pemandangan sesaknya jalanan, karena lautan manusia. Polusi udara dan suara yang sudah menjadi santapan sehari-hari. Tak jarang saat terjebak macet di perjalanan, membuatku merenungkan kembali keputusanku lima tahun silam. Saat aku mencoba meyakinkan ayah agar melepas anak perempuan sulungnya ini untuk mengadu nasib ke ibu kota.
Aku yang bertekad membantu perekonomian keluarga saat itu, dengan penuh percaya diri menyampaikan niatku. Aku tak mau berlama-lama menjadi sarjana pengangguran dan hanya menjadi beban keluarga. Sempat berdiskusi sengit dengan Ayah, karena ia berat hati melepasku untuk merantau kembali setelah selesai kuliah, apalagi melepasku mengadu nasib ke ibu kota yang katanya lebih kejam dari ibu tiri. Namun, ilmu negosiasiku saat itu memang tak perlu diragukan. Keterampilan yang ku dapatkan ketika berorganisasi di bangku kuliah. Di hadapan Ayah, ku sampaikan visi dan misiku dengan sangat meyakinkan. Tak tanggung-tanggung, ku jelaskan target jangka pendek dan panjangku. Langkah-langkah yang akan aku tempuh untuk mencapai tujuanku. Hasilnya boleh ditebak, Ayah yang dikenal sangat rasional, seolah melihat sosok dirinya padaku. Ya, aku adalah anak sulungnya yang logis dan penuh perhitungan. Aku bertaruh nasib ke kota ini bukan tanpa alasan, tapi untuk sebuah tujuan besar.
Walau dengan berat hati, ayah akhirnya mengizinkanku merantau. Toh, siapa sangka kota yang tak pernah masuk targetku untuk dijadikan tempat mengais rezeki ini malah jadi kota persinggahanku terlama. Kota ini banyak mengajarkan pelajaran hidup. Tentang kerja keras, keuletan, kejujuran dan nilai-nilai hidup lainnya. Ah memang ya, kita tak pernah bisa menebak takdir apa yang akan terjadi dalam hidup kita. Kita hanya bisa berikhtiar sekuat tenaga melakukan yang terbaik, sisanya biar menjadi urusan Allah. Jakarta, terima kasih atas pembelajaran hidup yang amat berharga. Terima kasih lima tahun ini sudah menempaku dengan segala manis, pahit dan ketirnya. Aku meyakini bahwa Ia, Sang Sutradara hidupku telah menyiapkan kejutan terbaiknya.
Komentar
Posting Komentar