Perjalanan Hidup (Part 2)
“Doamu yang mana, usahamu yang ke berapa, kau tak pernah tahu mana yang akan membuahkan hasil. Tugasmu hanya satu di antara keduanya. Maka, perbanyaklah!” -Anonim-
Jika ada yang bertanya, mengapa saya memilih bekerja di kota metropolitan Jakarta, tidak di kampung halaman saja supaya dekat dengan orang tua misalnya? Lagi, saya hanya bisa tersenyum meresponnya, kemudian substansi penjelasan saya akan mengarah ke quotes di atas. Kira-kira siapa juga yang ingin tinggal berjauhan dengan keluarga? Apa-apa dilakukan secara mandiri. Sendiri. Coba jawab!
Saya percaya bahwa rezeki setiap orang sudah Allah yang mengatur dan ia tak kan pernah tertukar. Dari sekian ikhtiar, doa dan tawakal yang saya lakukan, takdir membawa saya berkarya di kota ini. Sesuatu yang sebelumnya tak pernah dituliskan di dalam daftar mimpi, apalagi direncanakan. Sejujurnya, tujuan awal saya hijrah ke Jakarta adalah ingin mengikuti kursus IELTS untuk persiapan studi lanjut. Karena, di kota saya kursus tersebut belum ada yang menyediakan. Selain itu, ibu kota juga menawarkan kemudahan dalam mengakses informasi dan meningkatkan kapasitas diri dengan cepat. Berdasarkan segala pertimbangan serta memutuskan untuk keluar dari zona nyaman, saya memilih hijrah ke kota ini.
Tentunya tanpa melupakan jasa seorang malaikat yang membukakan jalan saya. Masih segar diingatan, bekal di tangan ketika melangkah ke kota ini sangat minim sekali. Bisa dikatakan saya merantau ke kota ini modal nekad. Kalo dipikir-pikir lagi, apanamanya kalau bukan nekad, hijrah ke Jakarta dengan modal 300 ribu rupiah di tangan untuk bertahan hidup (tanpa tabungan) dan posisinya saat itu masih belum memiliki pekerjaan/freshgraduate (masih apply lamaran sana-sini). Untungnya malaikat ini mau menampung saya di kontrakannya, sampai pada akhirnya saya mendapatkan pekerjaan. Alhamdulillah ya, terdengar seperti drama? Tapi begitulah kenyataannya.
Sampai detik ini, saya masih takjub dengan skenario hidup yang Allah berikan. Sungguh! Benar sekali bahwa Allah akan memberikan ujian sesuai kemampuan hamba-Nya. Masih segar diingatan, bagaimana saya meyakinkan orang tua untuk melepaskan anak sulung (perempuan) semata wayangnya hijrah ke suatu tempat yg asing sekali. Anak dusun dari keluarga biasa saja (ya biasa saja!). Dengan kondisi perekonomian cukup untuk makan sehari-hari saja. Karena, ayah saya hanya seorang buruh harian dan ibu saya adalah seorang Ibu Rumah Tangga (IRT). Saya dan adik-adik saya melanjutkan pendidikan dengan mengandalkan beasiswa.
Dengan kondisi perekonomian keluarga yang pas-pasan, saya cukup tahu diri bahwa sebagai sulung saya punya tanggung jawab moral untuk membantu perekomian keluarga. Ya walaupun belum bisa membantu banyak saat itu, setidaknya saya tidak jadi penambah beban keluarga. Ketiga adik laki-laki saya masih dalam proses pendidikan. Kebayang ga sih beban finansial orang tua saya? Siapa lagi tempat mereka menumpu harapan kalau bukan saya? Menjadi anak sulung itu memang harus peka luar biasa. Jadi kalau ditanya kenapa harus ibu kota pilihannya? Karena mungkin rezeki saya, takdir saya ada di kota ini. Ada saja jalannya. Masya allah. Tak sedikit juga yang bertanya, mengapa masih parkir sekolahnya sih mba? Pertanyaan ini membuat saya menghela napas panjang. Mohon doa terbaiknya saja ya teman-teman, agar dibukakan kesempatan dan pintu rizkinya. Satu hal yang saya yakini, kita memang tidak bisa memilih terlahir dari keluarga mana. Tapi, setiap orang punya kesempatan yang sama untuk mengubah masa depan menjadi lebih baik. Jadi, syukurilah setiap keadaan. Kita boleh saja terlahir miskin, tapi jika matipun dalam keadaan miskin itu adalah kesalahan kita. Karena, Allah telah membukakan pintu rezeki seluas-luasnya bagi mereka yang mau berjuang. Apalagi demi menghidupi keluarganya. Wallahu ‘alam bish showwab.
Komentar
Posting Komentar