Bukan Balapan


Sumber: dokumentasi pribadi


Hidup ini bukan perlombaan balap lari, pemenangnya bukan yang tercepat mencapai garis akhir, yang kalah juga bukan yang gagal masuk garis finish. Tapi, dari kecil kita sering disuruh cepat-cepat. Dari disuruh untuk makan lebih cepat, berberes lebih cepat atau mandi lebih cepat. Bahkan setelah dewasa, kita masih disuruh cepat-cepat menyelesaikan kuliah, cepat-cepat dapat pekerjaan yang bagus, cepat-cepat menikah, punya rumah, anak, kendaraan, dan lain sebagainya. Ya, seringkali kita diburu-buru waktu, seakan yang tercepat adalah pemenangnya.

Memang, dunia saat ini menuntut kita semua termasuk anak-anak untuk melakukan segala sesuatu dengan cepat. Namun, mengambil waktu sejenak untuk melambat bukanlah hal yang berlebihan. Coba kamu ingat, kapan terakhir kamu "tidak melakukan apapun", misal tidak cek notif whatsapp atau email, tidak merencanakan apapun di hari itu, tidak mengkhawatirkan rumah kotor, cucian numpuk? Bagaimana rasanya? Beristirahat sejenak itu tidak apa-apa.

Saya terkadang merasa heran, sebenarnya apa yang sedang kita kejar? Kenapa sepertinya hidup di bumi ini sangat melelahkan? Tidak jarang karena segala hal dituntut serba cepat, kita menjadi grasa grusu, senggol sana senggol sini. Tak peduli sekitar, yang penting segala hal cepat kelar. Seolah menjadi sebuah pencapaian jika mencapai garis finish duluan dari yang lainnya. Segala hal seakan berpatokan pada kecepatan.

Well, beberapa hari ini saya menahan diri agar tak berselancar di sosial media terlalu sering. Hanya sekilas membaca info penting. Pesan-pesan tertentu di whatsapp, instagram dan facebook yang sekilas mengandung perhatian, tapi sebenarnya hanya ingin kepo saja, cuma saya baca bahkan ada yang belum dibuka. Bukan apa-apa, saya sedang mengontrol diri agar tidak terpancing menanggapi hal-hal yang tidak esensial. Sedang mengaplikasikan kalimat bijak berikut: "berkata baik atau diam". Walaupun terkadang hati sebenarnya bergemuruh membaca pesan masuk yang penuh dengan penghakiman orang terhadap kita.

"Iya, lebih cepat bisa jadi lebih baik. Tapi hidup ini kan bukan acara balapan."

Tak mudah memang meyakini hidup ini bukan tentang siapa yang sukses duluan. Sekalipun saya memilih untuk "bodoh amat" dengan segala kompetisi yang ada, tetap tak mudah menanggapi pertanyaan "kalau kamu kapan, Hes?" Pertanyaan yang berasal dari keluarga sendiri maupun dari orang lain. Pertanyaan yang seringkali jadi bahan basa-basinya orang Indonesia di momen yang harusnya membawa suka cita seperti lebaran. Ah iya, kadang kita hanya perlu menghela napas sebentar agar tetap tenang dalam menanggapi pertanyaan-pertanyaan. Karena, kita tidak akan bisa mengontrol orang mau tanya apa, tapi kita bisa mengontrol respon kita mau seperti apa. Mau ngegas, santuy, atau tenang. Itu semua kita yang kendalikan.

Salah seorang guru pernah berkata: "Kita tidak akan bisa menyamakan persepsi orang buat selalu sama seperti apa yang kita mau, akan tetapi kita bisa menjadi seperti apa yang kita mau. Mau marah boleh, santuy silakan, mau biasa juga gapapa! Kita punya hak veto penuh atas diri sendiri, jangan goyah hanya karena faktor eksternal yang diluar kendali kita."

Hasil kontemplasi beberapa hari ini: "Bagaimana kalau memang hidup ini bukanlah sebuah "balapan" yang acuannya adalah "kecepatan?" 

Termasuk urusan menikah dan punya anak. Saya tetap bisa naik motor di sirkuit bernama "hidup", yang kadang tikungannya sulit atau malah lempeng aja, sambil sesekali berhenti. Untuk apa? Banyak. Untuk berbagi, peduli, dan untuk refleksi setelah jatuh, lalu mengumpulkan energi bangun lagi.

#30DWCjilid41
#Day10
@fighter30dwc





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menggunakan Microsoft Excel

Part 2 - Memaknai Arti Mengabdi

Sistem Komputer