Kontemplasi

"Selama masih di dunia, ya kita nggak bisa melarikan diri dari masalah atau persoalan hidup. Bisanya itu cuma kasih jeda istirahat, terus ya maju lagi. Dihadapi, bukan dihindari." Itu petuah orang tua yang selalu saya ingat ketika saya hampir menyerah karena sesuatu hal.
Akhir-akhir ini saya dipertemukan Allah dengan orang-orang yang mengingatkan kembali bahwa saya tidak sendirian dalam ikhtiar menjadi lebih baik. Percaya nggak? Mereka yang terlihat baik-baik saja di media sosialnya atau bahkan ketika bertemu terlihat ceria dan masih bisa tersenyum, ternyata memiliki ujian hidup yang lebih pelik? Ujian dari berbagai jenis, entah terkait urusan pekerjaan, pertemanan ataupun keluarga.
Dari situ saya sadar bahwa kemampuan membandingkan adalah sebuah anugerah ya, jika digunakan untuk mengingat-Nya. Salah satu anjuran Rasulullah S.A.W yang saya ingat adalah untuk melihat ke keadaan orang yang berada lebih "di bawah" dalam hal dunia.
“Mungkin pandemi ini adalah salah satu cara Allah menegur kita agar kita lebih menghargai nikmat silaturahmi yang mungkin selama ini sering terlupakan", ucap seorang sahabat.
Ah iya benar juga, bisa jadi selama ini dengan kesibukan kerja, belajar dan lain-lain, kita sampai terlupa untuk sekadar menyapa, menanyakan kabar keluarga, saudara, sahabat karena larut dalam rutinitas yang menguras pikiran dan fokus. Mungkin, sebelum pandemi terjadi ada yang sangat jarang berkabar dengan keluarga atau sahabat, sekarang intensitas berkomunikasi menjadi lebih sering. Skype, zoom,whatsapp dan lain-lain laris manis jadi media penyambung silaturahmi. Menakjubkan bukan? Yang dekat jadi semakin erat, yang jauh jadi terasa semakin dekat! Hikmah dari suatu musibah terkadang tanpa kita sadari membawa kita ke suatu kebaikan.
Selalu haru dan tidak bisa tidak meneteskan air mata ketika mengingat kembali perjuangan para dokter, tenaga medis dan para pahlawan Covid-19 saat pandemi lalu, harus terpisah dari keluarga sementara waktu untuk menjadi garda terdepan. Alhamdulillah, jika dibandingkan dengan kondisi kita yang non tenaga Kesehatan, sudah seharusnya kita banyak bersyukur karena masih bisa merasakan nikmat berkumpul dan bercengkerama dengan keluarga, sahabat dan orang-orang yang kita cintai. Di luar sana mungkin saja banyak orang yang belum bisa merasakan nikmat yang satu ini.
Seorang guru pernah berkata, ujian dan cobaan membawa manusia pada dua hal: mengeluh atau bersyukur. "Allah sayang banget sama kita, Hes. Justru yang hidup adem ayem padahal maksiat jalan terus harusnya bertanya-tanya, apakah Tuhan-nya sudah tak sayang lagi (pada dirinya)?" ujar seorang sahabat padaku. Lagi-lagi tentang menegur diri sendiri, dan lagi-lagi tentang "tidak melarikan diri." Hadapi saja. Allah bersama kita. Wallahu a'lam bish showwab.
Komentar
Posting Komentar