Untuk Apa Berpendidikan?
Dalam suatu percakapan bersama tim muda wangka, kami membicarakan isu-isu yang menarik untuk diangkat sebagai topik webinar dan juga program pengembangan pemuda di komunitas. Ketika sebagian besar dari kami tertarik membahas isu tentang kemajuan teknologi, startup, digitalisasi dan lain-lain. Saya yang paling keukeuh dan setia untuk concern membahas isu pendidikan. Ini bukan karena saya tidak tertarik sama isu yang lain. Menurut saya, pendidikan adalah kunci utama untuk menyelesaikan akar dari segala permasalahan. Jika semua anak bangsa ini berpendidikan, mereka akan berpikir visioner ke depan. Namun jika tidak, jangankan berbicara tentang kemajuan zaman, menemukan alasan (strong why) harus berpendidikan saja akan kesulitan. Faktanya ketika anak muda di kota-kota besar sudah jauh membicarakan perkembangan teknologi A, B, C. Ironinya, mereka yang tinggal di pelosok daerah, masih belum mengetahui esensi mereka berpendidikan untuk apa?
Kok bisa ya saya dengan pede-nya ngomong gini? Kayak sok tahu gitu? Eits, jadi gini, karena saya juga lahir dan tumbuh di pedesaan saya pun pernah merasakan hal serupa. Merasakan besarnya kesenjangan antara kehidupan perkotaan dan pedesaan dari berbagai aspek kehidupan, mulai dari akses, fasilitas dan juga kesempatan. Dulu, sebagian besar teman masa kecil saya mikirnya, ngapain juga capek-capek sekolah bertahun-tahun kalo cuma buat dapetin kerjaan yang bonafit supaya bisa bergaji besar. Toh, dengan ikut orang tua menambah timah seharian saja bisa mendapat penghasilan ratusan bahkan jutaan. Jadi, dimana esensinya melanjutkan pendidikan? Apakah hanya sekadar untuk memperoleh pekerjaan lalu berpenghasilan? Ya karena ketidakpahaman, jadi mikirnya serba instan! Itu fakta di tempat saya tinggal. Apa yang menyebabkan mereka berpikiran seperti itu? Berikut hal-hal yang saya amati:
Pertama. Lingkungan sosial yang belum aware urgensi melanjutkan pendidikan tinggi. Kita tahu bahwa hakikat pendidikan adalah membuat seseorang dari tidak tahu menjadi tahu. Tujuan utama pendidikan adalah mengubah pola pikir individu. Namun sayangnya, sebagian besar orang tua berpikir, lulus SMA saja sudah cukup apalagi bagi perempuan yang ujung-ujungnya bakal balik ke dapur🙂 Tidak sedikit, stigma yang berkembang di masyarakat bahwa anak perempuan,yang terpenting adalah bisa membaca dan menulis. Urusan bekerja (mencari nafkah) adalah urusan laki-laki. Seandainya R.A Kartini masih hidup, mungkin akan sedih banget. Karena ternyata perjuangannya belum selesai.
Kedua. kkses informasi tentang pendidikan masih terbatas. Info tentang beasiswa, tips dan trik memperoleh kampus dan jurusan yang tepat juga masih sangat minim. Anak-anak di kota besar mungkin mikirnya sudah jauh ke depan, seperti bimbel dimana untuk persiapan SBMPTN atau mau kuliah di kampus bergengsi mana? Bagi kita anak desa saat itu, apalagi keluarganya dengan latar belakang ekonomi pas-pasan, bisa kuliah dalam kota saja sudah bersyukur sekali.
Ketiga, mental block berupa ketakutan atau kekhawatiran yang mungkin berlebihan bagi sebagian orang. kekhawatiran bahwa ga akan mampu bayar uang kuliah yang mahal, ga mampu bersaing sama anak-anak kota yang berasal dari sekolah bagus. Bisa dikatakan udah mental blok duluan. Ini sebenarnya masih nyambung sama poin nomor 2, karena walaupun sudah banyak beasiswa baik dari pemerintah dan swasta, namun akses informasi di desa masih kurang.
Padahal, pendidikan adalah kunci. Tak salah Nelson Mandela mengatakan bahwa "Pendidikan adalah senjata yang paling ampuh untuk mengubah dunia." Pendidikanlah yang mampu melawan kebodohan dan mengentaskan kemiskinan. Zaman dahulu, para pendahulu kita harus berjuang angkat senjata melawan penjajah agar memperoleh kemerdekaan. Sekarang, walau tak harus berjuang angkat senjata, mungkin perjuangan kita tidak lebih mudah. Kemerdekaan berpikir dan memperoleh pendidikan harus sama-sama kita perjuangkan.
Komentar
Posting Komentar