Mutiara dari Pesisir - Melawan Kelaziman?
Malam itu malam yang tak kan terlupakan dalam hidup Nur. Susah payah ia meyakinkan orang tuanya agar rela melepasnya merantau jauh ke pulau seberang.
Tanpa keraguan, Nur mengambil
keputusan yang tidak lazim dilakukan oleh gadis di desanya. Ya, Nur yang keras
kepala dan bertekad baja, tidak tergoyahkan dengan cibiran tetangga tentang
dirinya.
“Dasar anak tidak tahu diri. Buat
makan aja susah, ngotot mau kuliah. Mbok ya sadar diri, bayar iuran sekolah saja
bapaknya mesti berutang sana sini. Sekarang minta kuliah, ke pulau Jawa lagi,’’
ujar bibinya di tengah orang-orang yang sedang memetik lada. Yang mendengar pun mengangguk mengiyakan
perkataan bibinya. Tidak berhenti sampai disitu, tak jarang obrolan menyakitkan
tetangga tentang dirinya juga sampai ke telinganya. Disudutkan, diremehkan,
dimatikan impiannya menjadi hal yang biasa dihadapinya.
Nur memang gadis yang unik dan
langka. Di saat gadis di desanya tamat sekolah menengah atas berbondong-bondong
bekerja serabutan dari mulai menambang timah, menjadi penjaga toko atau pemetik
lada, kemudian menikah di usia muda. Nur tetap pada pendiriannya, ingin sekolah setinggi-tingginya.
Lahir dan tumbuh di desa terpencil dekat
pesisir, tak menghalanginya punya mimpi yang besar. Kondisi perekonomian
keluarganya yang memprihatinkan menjadi motivasi kuat baginya untuk keluar dari
belenggu kemiskinan. Tekad dan cita-citanya sudah bulat. Ingin jadi sarjana
pertama di kampungnya.
“Keputusan Nur sudah bulat, Pak. Nur mau kuliah di pulau
Jawa. Di kampus terbaik yang sudah Nur cita-citakan sejak lama. Bapak tidak
perlu risau soal biaya kuliah. Nur akan belajar dengan sungguh-sungguh agar
dapat beasiswa dari kampus. Nur yakin dengan kemampuan yang Nur miliki,” ujar
Nur dengan mata berkaca-kaca meyakinkan ayahnya.
“Tapi Nur, adik-adikmu masih
kecil dan perlu biaya juga untuk melanjutkan sekolah. Bapak khawatir ga akan
sanggup membiayai pendidikan adik-adikmu sampai lulus SMA. Harapan Bapak hanya
kamu, Nur,’’ sambung ayahnya.
“Nur janji akan bantu Bapak. Nur
akan kuliah sembari bekerja. Bapak tidak perlu khawatir, Nur akan cari
pekerjaan sampingan supaya bisa kirim uang ke Bapak. Tolong izinkan Nur untuk
kuliah, Pak. Semua Nur lakukan untuk memperbaiki kehidupan kita,” ujar Nur
dengan mengiba.
“Baiklah, Nur. Bapak tidak akan
menghalangimu, jika tekadmu sudah bulat. Tapi, kamu harus selalu ingat tujuan
utamamu. Belajarlah dengan giat, gapai cita-citamu. Jangan kecewakan Ibu dan
Bapak.”
Malam itu, susah payah Nur meyakinkan
orang tuanya agar rela melepas anak sulung perempuannya merantau menimba ilmu
di pulau seberang. Bapak yang akhirnya dengan berat hati melepasnya untuk
menggapai impiannya.
“Pak, anakmu ini ga akan hanya
jadi sarjana. Tetapi jadi doktor pertama di kampung ini, Pak. Insyaallah. Nur
ga akan mengecewakan Bapak dan Ibu,” ucap Nur dalam hati.
Kepercayaan telah diraih.
Tekad sudah bulat. Takdir terbaik sedang dijemput.
Tidak ada kata menyerah
sebelum ikhtiar terbaik dikerahkan.
=== bersambung ====
Komentar
Posting Komentar